Ilustrasi proses seleksi lamaran pekerjaan (Foto: channel9)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menjelang pergantian tahun dari 2025 ke 2026 yang shionya ‘kuda api’ ada masalah serius yang menjadi tantangan besar para menteri sektor ekonomi di Kabinet Merah Putih (KMP), bentukan Presiden Prabowo Subianto. Apa itu?
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani menyebut masalah pengangguran. Mirisnya lagi, banyak generasi yang lahir pertengahan 1990 hingga awal 2010 yang disebut generasi Z, menganggur. Porsinya 67 persen dari total pengangguran di Indonesia.
“Dan ini yang saya paling khawatirkan sekarang adalah pengangguran terbesar itu ternyata ada di Gen Z. Hampir 67 persen,” kata Shinta dalam sebuah talk show di Jakarta, dikutip Kamis (25/12/2025).
Harus diakui, Shinta menyebut, ketersediaan lapangan kerja menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah. Di mana, porsi pengangguran terbuka di Indonesia menurun, karena banyak masyarakat yang bekerja di sektor informal. “Seseorang yang bekerja satu jam dalam seminggu saja, itu dianggap bekerja,” imbuhnya.
Dia menyebut, jumlah pekerja informal di Indonesia, cukup mendominasi. Angkanya mencapai 60 persen. Lapangan kerja khususnya sektor industri, semakin hari semakin susut besar. Semakin banyak industri padat karya yang tutup. Mulai dari sektor tekstil, garmen, otomotif dan lainnya.
Pekerja sektor informal yang semakin tinggi menurutnya disebabkan karena lapangan kerja di sektor industri tidak cukup. “Sekarang sebagian besar (pekerja) itu ada di sektor informal. Hampir 59 persen, 60 persen,” ujar Shinta.
Akhirnya, pekerja gig ekonomi seperti driver ojek online (ojol) dan pekerja di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus meningkat. “Di sini kita melihat permasalahan utamanya adalah jenis pekerjaannya,” kata Shinta.
Dia pun menyebut adanya pergeseran antara besaran investasi dengan serapan tenaga kerja. Jika pada 2018, setiap investasi sebesar Rp1 triliun, mampu menyerap 4.000 pekerja. Kini, dengan nilai investasi yang sama hanya menyerap sekitar 1.200 pekerja. Atau turun nyaris 4 kali lipat dalam 7 tahun. Pemicunya apalagi kalau bukan otomatisasi atau digitalisasi.
Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, perlu pertumbuhan ekonomi tinggi untuk menciptakan lapangan kerja yang signifikan. Sehingga sudah betul jika pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2026.
“Jika 5,4 persen (pertumbuhan ekonomi), nanti masih banyak tuh yang menganggur. Baru lulusan sudah nganggur. Baru masuk usia kerja masih banyak yang enggak dapat kerjaan,” tutur Purbaya.
Ia menyebut, jika pertumbuhan ekonomi mencapai 6,7 persen, maka masyarakat yang baru lulus sekolah perguruan tinggi akan lebih mudah mencari pekerjaan.
“Kalau 6,7 (persen) anda lebih gampang cari kerja. Teman-teman nanti yang muda-muda yang baru lulus, enggak usah pusing-pusing cari kerja. Banyak lapangan pekerjaan,” kata dia.














