Inter Milan jatuh dari langit ke bumi. Setelah pesta gol 5-0 melawan Torino di pekan pembuka, Nerazzurri malah tumbang 1-2 dari tamunya Udinese di Giuseppe Meazza, Minggu (31/8/2025).
Denzel Dumfries sempat membuka skor lebih dulu, namun kesalahan tangannya menghadiahkan penalti untuk Keinan Davis. Tak lama, sepakan melengkung Arthur Atta membalik keadaan sebelum jeda.
Pelatih Cristian Chivu mengakui sudah melihat tanda-tanda bahaya sejak awal.
“Pertandingannya awalnya di jalur yang tepat, tapi kami tidak fluid, tidak menemukan build-up yang pas. Begitu ada kesulitan pertama, kami beri penalti dan kehilangan fokus,” ujarnya kepada DAZN Italia.
Meski mengerahkan semua striker—Lautaro Martinez, Marcus Thuram, Francesco Pio Esposito, dan Ange-Yoan Bonny—Inter tetap jarang mengancam gawang lawan.
“Kami sudah coba semua, termasuk memanfaatkan tinggi badan Pio untuk duel udara, tapi bek Udinese bertahan luar biasa. Sepak bola indah memang penting, tapi kadang bola panjang ke kotak penalti bisa lebih berbahaya dari umpan cantik,” kata Chivu.
Di ruang ganti, ia meminta pemainnya lebih banyak bergerak untuk membuka ruang dan mencari umpan vertikal. Namun seiring berjalannya waktu, ketajaman Inter kembali pudar.
“Kami tidak sehebat saat menang di laga pertama, dan kami juga tidak seburuk kekalahan ini. Tim ini masih proyek yang berjalan. Yang terpenting belajar cari keseimbangan, fokus, dan kerja keras. Musim masih panjang,” tambahnya.
Kekalahan ini jadi modal buruk jelang jeda internasional, apalagi Inter sudah ditunggu Juventus selepas jeda, sebelum melangkah ke Liga Champions.
“Semoga waktu dua pekan ini membuat pemain kembali dengan tekad dan api yang lebih besar,” tutup Chivu.














