Danantara Luncurkan Patriot Bond, Ekonom: Hati-hati, Likuiditas Perbankan Mengering

Danantara Luncurkan Patriot Bond, Ekonom: Hati-hati, Likuiditas Perbankan Mengering


Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) meluncurkan surat utang atau obligasi bernama Patriot Bond, senilai Rp50 triliun.

Dikhawatirkan berdampak kepada perbankan. Likuiditas bank mengering mengancam sektor bisnis. Bahkan bisa terulang krisis moneter era 98, di mana bank yang tumbang. 

Tak sedang bercanda, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyebut, kehadiran Patriot Bond dikhawatirkan para pemilik duit jumbo, menarik dananya dari perbankan. Khususnya yang berbentuk deposito.

Alhasil, kata Bhima, perbankan akan menghadapi kekeringan likuiditas akibat crowding out Danantara. Kalau benar itu terjadi, berdampak kepada fungsi intermediasi perbankan. Kucuran kredit bank yang mendorong pertumbuhan ekonomi, menjadi seret.

Bisa jadi, lanjut Bhima, perbankan tak akan menurunkan suku bunga dalam waktu cepat. Meski Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan alias BI-rate pada akhir Agustus ini.

“Kondisi eksisting bank sudah berebut dana dengan kebutuhan pemerintah terbitkan Surat Berharga Negara. Ditambah ada Patriot Bonds yang pasarnya adalah pembeli domestik,” ujar Bhima, Jakarta, dikutip Kamis (28/8/2025).

Ia juga menengarai kehadiran Patriot Bonds akan memaksa para konglomerat di Tanah Air memarkir duitnya ke surat utang ‘made in’ Danantara itu. Karena merasa terlindungi.

“Konglomerat yang beli Patriot Bonds sebenarnya seperti membeli asuransi karena dianggap telah membantu Danantara. Pembelian Patriot Bonds bisa dijadikan cara agar pengusaha tertentu dekat dan mendapatkan perlindungan dari pemerintah,” kata Bhima.

Dari unggahan Chairman Kura Kura Bali Special Economic Zone Tantowi Yahya di akun instagram resminya, @tantowiyahyaofficial, menayangkan Tantowi menghadiri undangan Danantara saat peluncuran Patriot Bond.

Peluncuran itu dilaksanakan di salah satu hotel bintang lima di Jakarta yakni Grand Hyatt. Acara tersebut tentu dihadiri oleh CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani.

“Memenuhi undangan CEO Danantara yang juga Menteri Investasi/Kepala BKPM, Roslan Roeslani dalam pertemuan dengan para pengusaha nasional dalam peluncuran Patriot Bond,” kata Tantowi.

Ternyata acara itu dihadiri Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang diunggah dalam istgram tersebut.

“Untuk pertama kali menyaksikan Seskab, Letkol Teddy Indra Wijaya pidato di depan publik. Itu terjadi dalam peluncuran Patriot Bond Danantara ke para pengusaha nasional siang tadi di Jakarta. Ternyata beliau ini bicaranya lancar, tanpa teks dan dengan humor-humor spontan,” tulis Tantowi.

Dia menyebut, obligasi patriot itu diluncurkan dalam rangka mencari dana untuk proyek pengelolaan sampah menjadi energi. Karena menurutnya di sejumlah daerah sudah masuk status darurat sampah.

“Pemerintah melalui Danantara mencari dana untuk membiayai sejumlah proyek waste to energy yang tersebar di berbagai lokasi di Indonesia. Sejumlah daerah sudah dalam keadaan darurat terkait sampah, satu diantaranya Bali,” ungkapnya.

Dalam laporan dari The Straits Times, sejumlah pengusaha telah sepakat untuk membeli patriot bond. Hal ini diketahui menurut sumber Straits Times yang mengetahui langsung masalah tersebut.

Obligasi tersebut mengincar pengumpulan dana hingga US$4 miliar atau setara Rp50 triliun. Terdapat dua jenis obligasi yang diluncurkan Danantara dengan imbal hasil atau kupon sebesar 2 persen.

Jauh di bawah kupon Surat Berharga Negara (SBN) yang dikeluarkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dikeluarkan BI.

Sebelumnya, Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir sebelumnya menegaskan Patriot Bond dapat memperkuat peran dunia usaha dalam pembangunan.

Ia menilai negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat (AS) lazim memakai obligasi serupa ini untuk memperkuat kemandirian pembiayaan di negara tersebut. Lewat Patriot Bonds, negara akan memperoleh sumber pendanaan jangka menengah-panjang yang stabil.

 

Visited 3 times, 1 visit(s) today