Jumlah korban jiwa akibat banjir besar di Pulau Bali terus bertambah. Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali menyebutkan, hingga Jumat (12/9/2025) sore, total korban meninggal mencapai 17 orang. Sementara lima orang lainnya masih dalam pencarian.
Kepala UPTD Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Bali, I Wayan Suryawan, mengatakan ada lima tambahan korban jiwa dari data sebelumnya.
“Empat orang di antaranya korban hilang yang ditemukan, dan satu korban tambahan berasal dari Kabupaten Gianyar,” ujarnya.
210 Peristiwa Bencana di Bali
BPBD mencatat total 210 peristiwa bencana sejak 9–11 September 2025. Dari jumlah itu, 144 berupa banjir dengan sebaran terbanyak di Denpasar (81 titik), Gianyar (14), Badung (12), Tabanan (10), Jembrana (23), dan Karangasem (4).
Selain banjir, terdapat 27 titik tanah longsor, terbanyak di Karangasem (12), Tabanan (7), Gianyar (5), Klungkung (2), dan Badung (1). Bencana lain yang dilaporkan antara lain pohon tumbang, jalan rusak, serta bangunan jebol.
Infrastruktur Rusak dan Kerugian Rp 25,5 Miliar
Banjir menyebabkan dua jembatan rusak di Gianyar dan Karangasem. Sebanyak 474 bangunan, sebagian besar kios dan ruko pasar, juga rusak. Kerugian akibat terendamnya 96 ruko di Jalan Sulawesi dan Pasar Kumbasari diperkirakan mencapai Rp 25,5 miliar.
Jumlah pengungsi tercatat 562 orang, terdiri dari 235 warga Denpasar yang tersebar di enam lokasi dan 327 warga Jembrana di lima lokasi.
Penyebab: Curah Hujan Ekstrem dan Salah Kelola Tata Ruang
BMKG menyebut banjir dipicu curah hujan ekstrem 385 mm/hari, tertinggi dalam catatan sejarah Bali, akibat aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby. Fenomena atmosfer ini seharusnya tidak terjadi di puncak musim kemarau.
“Fenomena ini menandai peran perubahan iklim yang memperbesar potensi hujan ekstrem di Indonesia,” kata peneliti iklim BMKG, Siswanto.
Direktur Eksekutif Walhi Bali, Made Krisna Dinata, menyoroti kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan menjadi bangunan.
“Dalam lima tahun terakhir, lahan hidrologi di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan banyak beralih fungsi. Sungai menyempit, daya serap air hilang,” katanya.
Pemerintah Fokus Penanganan
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat membersihkan material banjir serta menyalurkan bantuan logistik, obat-obatan, hingga tenda darurat.
“Rumah warga yang rusak juga akan diganti,” tegasnya.
BNPB juga memperingatkan potensi hujan lebat bergeser ke Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Operasi modifikasi cuaca disiapkan untuk meminimalisir dampak.
Banjir bandang juga melanda Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, menewaskan empat orang. Empat warga lainnya masih hilang dan diduga tertimbun lumpur serta material banjir. Krisis air bersih pun melanda wilayah terdampak.














