Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS), Pemerintah India mengambil langkah berani. Perdana Menteri (PM) Narendra Modi mengumumkan reformasi besar-besaran pada sistem perpajakan, yang intinya akan memangkas beban pajak konsumsi bagi masyarakat.
Mengutip Reuters, kebijakan ini diumumkan tak lama setelah Modi menegaskan komitmennya untuk menghidupkan kembali perekonomian nasional. Tujuannya jelas: menunjukkan bahwa pemerintah hadir di sisi rakyat dan memprioritaskan kepentingan mereka.
Dua Lapis Tarif Baru yang Menguntungkan
Seorang pejabat senior yang tak mau disebut namanya membocorkan detailnya. Pemerintah India akan memperkenalkan skema dua lapis tarif baru, yakni 5 persen dan 18 persen. Ini berarti tarif 12 persen dan 28 persen yang selama ini berlaku akan dihapuskan.
Perubahan ini bakal membawa dampak signifikan. Hampir semua barang yang sebelumnya dikenakan pajak 12 persen akan turun ke tarif 5 persen. Kebijakan ini jelas menguntungkan banyak pihak, mulai dari perusahaan multinasional seperti Nestle dan Unilever, hingga masyarakat umum.
Rencana pemangkasan pajak ini muncul di saat yang tepat. Modi menyebut, kebijakan ini akan menjadi kado istimewa menjelang Hari Raya Diwali. “Diwali kali ini akan menjadi dua kali lipat lebih meriah. Reformasi GST generasi baru akan meringankan beban rakyat,” ujar Modi dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan ke-79 India, pertengahan Agustus lalu.
Dampak Ekonomi yang Sangat Luas
Meski keputusan akhir masih menunggu persetujuan, sejumlah analis sudah memperkirakan dampaknya. Analis Citi memprediksi, kebijakan ini berpotensi membuat negara kehilangan pendapatan hingga 500 miliar rupee atau sekitar Rp92,7 triliun. Namun, di sisi lain, ini akan memberikan stimulus ekonomi yang besar bagi rumah tangga, setara 0,6 persen hingga 0,7 persen dari PDB.
Langkah ini juga diyakini mampu mendorong permintaan pasar hingga US$17 miliar. Lonjakan konsumsi inilah yang diharapkan dapat menggerakkan kembali roda ekonomi India yang sempat tersendat.
Sentimen positifnya sudah terasa di bursa saham. Sejak kabar rencana ini beredar, saham-saham di sektor otomotif dan properti langsung merangkak naik. Bahkan, saham perusahaan layanan pesan-antar makanan, Zomato, melonjak tajam hingga 7,8 persen. Ini adalah sinyal bahwa pasar menyambut baik kebijakan pro-rakyat ini.
Aasif Malbari, Direktur Keuangan Godrej Consumer Products, mengatakan, “Reformasi pajak ini akan memberi kelas menengah India daya beli lebih kuat. Itulah kunci pemulihan ekonomi yang sempat melemah sejak pandemi COVID-19.”
Menurut pengamat, kebijakan ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga strategi politik Modi untuk meredam kegelisahan masyarakat. Ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah India menempatkan rakyat sebagai prioritas utama, di tengah tekanan dari luar.










