Diplomasi “Unusual” Moskow-Pentagon, Apa yang Dibidik Prabowo?

Diplomasi “Unusual” Moskow-Pentagon, Apa yang Dibidik Prabowo?

Unusual (tidak lazim). Indonesia mengejar kepentingannya di Timur dan Barat. Presiden Prabowo Subianto melakukan perjalanan ke Moskow untuk meminta dukungan Presiden Vladimir Putin dalam masalah energi, sementara pada saat yang sama ia mengirim Menteri Pertahanannya, Sjafrie Sjamsoeddin, ke Washington—tetapi untuk menawarkan konsesi kedaulatan kepada Amerika Serikat,” tulis akun X China Pulse @Eng_china5 mengomentari kebijakan luar negeri yang tengah dipertontonkan Presiden Prabowo.

Wajar jika banyak pihak bertanya-tanya, peran apa yang tengah dimainkan Prabowo? Di tengah pusaran geopolitik global yang tak menentu, Presiden Prabowo mengambil langkah yang tidak biasa. Prabowo terbang ke Moskow menemui Vladimir Putin, sementara di saat yang hampir bersamaan ia mengutus Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke Pentagon, jantung pertahanan Amerika Serikat.

Dalam beberapa bulan terakhir, intensitas diplomasi Prabowo meningkat tajam. Ia bergerak cepat menemui pemimpin dunia dari berbagai kutub kekuatan, dari Barat hingga Timur. Namun, kunjungan ke Moskow di tengah eskalasi konflik global memiliki bobot simbolik sekaligus strategis yang lebih besar.

Energi, Gandum, dan Pesan ke Barat

Pertemuan Prabowo dan Putin bukan sekadar diplomasi seremonial. Di balik pintu Kremlin, yang dibicarakan adalah hal-hal mendasar bagi ketahanan Indonesia yakni, ketahanan energi, pangan, dan pertahanan.

Rusia, di tengah sanksi Barat, membuka diri lebih luas kepada negara-negara global south, termasuk Indonesia. Bagi Jakarta, ini adalah peluang.

Ketika konflik Timur Tengah mengancam pasokan minyak global—terutama jika Selat Hormuz terganggu—akses ke energi Rusia menjadi alternatif strategis. Begitu pula dengan gandum, komoditas vital yang selama ini banyak diimpor Indonesia dari kawasan konflik.

Itu sebabnya langkah ini dinilai rasional. Ini bukan soal ideologi atau keberpihakan, melainkan soal survival. Ketika Timur Tengah tidak stabil, Indonesia membutuhkan sumber energi alternatif. Rusia menjadi salah satu opsi yang tersedia.

Namun, di mata Barat, kedekatan ini dapat dibaca sebagai sinyal pergeseran orientasi.

Di sinilah langkah Prabowo menjadi menarik. Alih-alih condong ke satu sisi, ia mengimbangi langkahnya. Saat ia berada di Moskow, utusannya berada di Washington.

Kehadiran Sjafrie di Pentagon bukan kebetulan. Itu adalah sinyal bahwa Indonesia tetap menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat, terutama di sektor pertahanan.

Amerika Serikat masih menjadi mitra utama dalam pelatihan militer, sumber teknologi pertahanan canggih, dan penjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Seorang pengamat menyebut langkah ini sebagai high-level hedging. Indonesia tidak memihak, melainkan memperluas opsi. Ini adalah perilaku lindung nilai klasik dari negara menengah yang sedang bangkit. Dengan kata lain, Indonesia bermain di dua papan sekaligus tanpa sepenuhnya berada di salah satunya.

Timur Tengah Jadi Penentu

Manuver Prabowo harus dibaca dalam konteks global yang lebih luas. Serangan Amerika Serikat ke Teheran membuka babak baru ketegangan di Timur Tengah. Risiko eskalasi sangat nyata: potensi penutupan Selat Hormuz, lonjakan harga minyak, dan gangguan rantai pasok global.

Bagi Indonesia, dampaknya langsung terasa. Lebih dari separuh kebutuhan energi masih bergantung pada impor. APBN rentan terhadap fluktuasi harga minyak, yang pada akhirnya dapat memicu inflasi.

Dalam situasi ini, kebijakan luar negeri tidak lagi sekadar urusan diplomasi, tetapi menjadi bagian dari strategi ekonomi nasional.

Apa yang dilakukan Prabowo bukan hal baru dalam teori hubungan internasional. Ini dikenal sebagai strategic hedging, yakni menjaga keseimbangan di tengah rivalitas kekuatan besar.

Yang berbeda adalah skalanya. Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti arus ASEAN, tetapi mulai memainkan peran sebagai middle power yang aktif.

Dalam kerangka ini, Rusia menjadi mitra energi dan geopolitik alternatif. Amerika Serikat tetap menjadi penjamin stabilitas keamanan, sementara China berperan sebagai mitra ekonomi utama. Indonesia tidak memilih satu pihak, melainkan memanfaatkan semuanya.

Namun, strategi ini mengandung risiko. Pertama, krisis kepercayaan. Kedekatan dengan Moskow dapat menimbulkan kecurigaan di Washington, sementara Rusia juga dapat melihat Indonesia sebagai mitra yang tidak sepenuhnya solid.

Kedua, tekanan geopolitik. Jika konflik global semakin tajam, ruang untuk bermain di tengah akan menyempit.

Ketiga, ketergantungan struktural. Diversifikasi energi membutuhkan waktu, sementara kerentanan masih tetap ada.

Pada akhirnya, langkah Prabowo mencerminkan perubahan karakter diplomasi Indonesia: dari normatif menjadi pragmatis, dari berbasis prinsip menjadi berbasis kepentingan nasional konkret.

Energi, pangan, dan pertahanan menjadi kompas utama. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, fleksibilitas menjadi kebutuhan. Jika pada era Perang Dingin netral berarti tidak berpihak, kini netral berarti mampu berinteraksi dengan semua pihak sekaligus.

Langkah Prabowo ke Moskow dan Pentagon bukan sekadar diplomasi rutin, melainkan bagian dari strategi besar: bertahan dan mengambil peluang di tengah dunia yang terbelah.

Pertanyaannya kini bukan lagi apa yang dilakukan, tetapi seberapa lama strategi ini dapat dipertahankan tanpa kehilangan kepercayaan dari para pihak. Indonesia sedang berjalan di atas tali, dan seluruh manuver ini adalah upaya menjaga keseimbangan agar tidak jatuh.

Visited 9 times, 1 visit(s) today