Pekerja melakukan bongkar muat pupuk bersubsidi di gudang penyimpanan pupuk distribution center Medan, Sumatera Utara, Jumat (9/1/2026). (Foto: Antara/Yudi Manar/tom.)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Konflik geopolitik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz berdampak serius pada distribusi pupuk global. Sepertiga pasokan dunia bergantung pada jalur tersebut, banyak negara kini mengalami kelangkaan urea dan berpaling ke Indonesia.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan, posisi Indonesia sebagai salah satu produsen urea terbesar menjadikannya target utama pasokan bagi negara lain.
“Kondisi ini membuat banyak negara di dunia kini membutuhkan pasokan urea dari Indonesia. Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia,” ujar Sudaryono, dikutip Rabu (15/4/2026).
Minat tersebut disampaikan langsung oleh pemerintah India, Filipina, hingga Australia. Bahkan, Sudaryono menyebut negara-negara tersebut bersedia menebus pasokan dengan harga tinggi.
“Pemerintah India sudah menghubungi kami. Saya juga telah menerima surat dari pemerintah Filipina dan Australia. Mereka siap membeli dengan harga berapa pun,” ungkapnya.
Tingginya permintaan global ini mengubah rencana pemerintah terhadap industri pupuk dalam negeri. Rencana penutupan sejumlah pabrik yang sebelumnya dianggap tidak efisien kini resmi dibatalkan untuk mengejar peluang pasar internasional.
“Pabrik-pabrik yang tadinya direncanakan untuk kita suntik mati, tapi sekarang tidak jadi. Karena ternyata permintaan sangat tinggi,” jelas Sudaryono.
Ia telah melaporkan potensi ekspor ini kepada Presiden Prabowo Subianto. Tahun ini, Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) menargetkan ekspor sebanyak 1,5 juta ton. Namun, Sudaryono menegaskan ekspor hanya dilakukan jika kebutuhan domestik sudah terpenuhi.
“Dan pastinya kebutuhan pupuk petani di dalam negeri pasti kita penuhi terlebih dahulu. Itu tidak akan kita utak-atik,” tegas Ketua Umum HKTI tersebut.
Senada dengan Wamentan, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menjelaskan bahwa ketahanan stok nasional dalam posisi aman. Kapasitas produksi nasional saat ini mencapai 14,8 juta ton per tahun, dengan porsi urea sebesar 9,4 juta ton.
“Di tengah dinamika global yang menekan pasokan di banyak negara, sektor pupuk justru menempatkan Indonesia dalam posisi yang lebih kuat. Dari 9,4 juta ton total kapasitas produksi urea, kita bisa ekspor antara 1,5 sampai 2 juta ton tergantung dari kebutuhan dalam negeri,” kata Rahmad.
Menurutnya, kebijakan ekspor tetap dilakukan secara terukur berdasarkan arahan pemerintah dengan mengedepankan kepentingan petani lokal. “Kami senantiasa mengikuti kebijakan dan arahan pemerintah, dengan memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi,” tuturnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














