Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira meyakini, aksi demo mengkritisi tunjangan mewah DPR yang berujung anarkis, memberikan dampak buruk terhadap perekonomian nasional. Khususnya sektor investasi.
“Investasi jelas terganggu (unjuk rasa), khususnya investasi dari luar negeri. IHSG dibuka hari ini sudah merosot, jatuh 2,27 persen nett sell (jual bersih) oleh asing sebesar Rp1,12 triliun,” ujar Bhima kepada Inilah.com, Jakarta, Senin (1/9/2025).
Diketahui, IHSG sempat ambruk 2,69 persen menjadi 7.620 pada pembukaan Senin (1/9). Kemudian anjlok 3,51 persen. Nyaris seluruh saham yang diperdagangkan masuk zona merah, di tengah isu demo lanjutan yang bergulir hari ini.
Bhima mengatakan, sentimen negatif dipengaruhi faktor demonstran yang kecewa terhadap berbagai masalah ekonomi, seperti pajak yang tidak adil, tunjangan DPR, hingga efisiensi anggaran pemerintah.
“Akumulasi persoalan tadi tidak dijawab oleh presiden, sehingga eskalasi protes publik menimbulkan risiko politik bagi investor. Awalnya mau menanam uang, ingin bikin pabrik akhirnya menjadi lebih berhati-hati. Ujung-ujungnya mereka akan wait and see dulu, sampai gejolak mereda,” kata dia.
Faktor lainnya, lanjut Bhima, timbulnya korban jiwa dan sikap represif dari aparat keamanan di berbagai wilayah, mengindikasikan risiko keamanan tinggi bagi investor. Kondisi inilah yang membuat investor tidak nyaman untuk membenamkan modalnya.
“Imbasnya tentu ke pertumbuhan ekonomi karena sumbangan investasi cukup besar, dan punya dampak berganda ke penyerapan tenaga kerja,” jelas dia.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Sarman Simanjorang mengatakan, aksi unjuk rasa yang menimbulkan kondisi tidak kondusif, sangat mengganggu aktivitas ekonomi.
Dia berharap, aksi demonstrasi bisa diakhiri secara persuasif, damai, serta penuh semangat persatuan dan kesatuan. “Jika masyarakat takut keluar rumah, maka berbagai sektor usaha akan terganggu, seperti sektor transportasi, perdagangan, kuliner, mal atau pusat perbelanjaan, hotel, restoran, logistik, dan lainnya,” ujar Sarman, dikutip Senin (1/9/2025).
Sebelumnya, rangkaian unjuk rasa meletup di sejumlah daerah di Tanah Air hingga Minggu (31/8/2025) dini hari. Di Jakarta, sejumlah titik menjadi pusat unjuk rasa yakni Gedung DPR RI, Mako Brimob Kwitang, Polda Metro Jaya dan sempat meluas ke berbagai wilayah.
Tak hanya di Jakarta, unjuk rasa daerah lain seperti Surabaya, Makassar, Bali dan beberapa daerah lainnya turut memanas dan diwarnai kericuhan.
Tuntutan masyarakat menyangkut tunjangan jumbo anggota DPR RI dan tanggung jawab atas pernyataan kontroversial anggota dewan, tindakan represif aparat selama unjuk rasa, hingga kepastian hukum bagi pelaku pelindas pengendara ojek daring, Affan Kurniawan di tengah aksi demonstrasi.














