Cristian Chivu, Pelatih Kepala FC Internazionale Milano, memberikan instruksi kepada tim selama pertandingan Serie A antara FC Internazionale dan AS Roma di Stadion Giuseppe Meazza pada 5 April 2026 di Milan, Italia. (Foto: Marco Luzzani/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pelatih kepala Inter Milan, Cristian Chivu, memuji habis-habisan mentalitas dan semangat juang anak asuhnya usai mencatatkan kemenangan telak 5-2 atas AS Roma. Laga lanjutan Liga Italia (Serie A) yang digelar di Stadion Giuseppe Meazza, Minggu (5/4) waktu setempat, menjadi ajang pembuktian kematangan taktik skuad Nerazzurri, khususnya di babak kedua.
Kemenangan ini menjadi sinyal kebangkitan yang tegas dari Inter. Sebelum jeda internasional, mereka sempat terseok-seok dengan hanya mengantongi dua poin dari tiga pertandingan.
“Malam ini, kami keluar dari ruang ganti untuk babak kedua dengan semangat yang tepat, mencoba mendominasi dan membunuh pertandingan secepatnya,” tegas Chivu kepada DAZN Italia.
Pelatih asal Rumania itu mengaku sangat puas dengan dampak instan yang diberikan para pemainnya. Ia secara khusus memuji Lautaro Martinez yang langsung mencetak dua gol sekembalinya dari cedera sejak 18 Februari, serta kontribusi krusial dari Hakan Calhanoglu, Marcus Thuram, Nicolo Barella, hingga pemain yang tidak tampil.
Perubahan Taktik dan Kematangan Mental
Menanggapi komentar pelatih Roma, Gian Piero Gasperini, yang menyebut timnya tampil menekan di babak pertama, Chivu tak menampik hal tersebut. Ia mengakui bahwa formasi Roma sangat merepotkan, memaksa Calhanoglu harus bermain lebih ke dalam untuk meredam pergerakan lawan.
Namun, instruksi tegas di ruang ganti saat turun minum berhasil membalikkan keadaan. Titik baliknya adalah gol ketiga Inter di awal babak kedua yang memicu perayaan liar di bangku cadangan.
“Itu adalah apa yang kami minta saat turun minum: memiliki pendekatan yang tepat langsung setelah jeda, untuk menyelesaikan pertandingan dan mencetak lebih banyak gol,” ungkap Chivu. “Ada tanda-tanda kematangan dari tim ini. Pada beberapa laga terakhir, kami sempat goyah saat mencoba mempertahankan keunggulan, dan kami tidak seharusnya melakukan itu.”
“Kami menunjukkan keberanian lebih di babak kedua dan berhasil merusak garis pertahanan mereka, memindahkan bola lebih cepat, dan mendorong playmaker kami ke peran yang lebih maju,” analisis mantan bek Inter Milan tersebut.
Soroti Budaya Toksik Sepak Bola Italia
Selain membahas taktik, Chivu juga memberikan komentar tajam terkait momen emosional yang dialami beknya, Alessandro Bastoni. Pemain bertahan itu mendapat standing ovation dari publik San Siro saat ditarik keluar, sebuah dukungan moral yang penting usai dirinya menjadi bulan-bulanan kritik pasca-kegagalan Timnas Italia di play-off Piala Dunia 2026.
Chivu menyoroti betapa kuatnya budaya negatif yang kini menyelimuti sepak bola Italia dan menuntut perubahan pendekatan dari semua pihak.
“Saya tidak memiliki tongkat ajaib untuk memperbaiki semua yang salah, tetapi yang bisa saya katakan adalah kita semua bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam sepak bola. Itu berarti pelatih, pemain, jurnalis, hingga media sosial, karena kritik dan hal negatif saat ini mendapatkan lebih banyak perhatian,” kritik Chivu.
“Kita semua bersalah. Kita harus mengubah pendekatan terhadap olahraga luar biasa ini. Sepak bola seharusnya memancing rasa cinta dari anak-anak dan para penggemar yang mendukung tim mereka, bukan dari mereka yang hanya mendoakan keburukan atau melontarkan hinaan kepada lawan,” pungkasnya tegas.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














