Kehilangan predikat petenis nomor satu dunia di Monte Carlo ternyata tidak membuat Carlos Alcaraz patah arang. Sebaliknya, petenis Spanyol berusia 22 tahun ini justru sedang menyusun ulang strategi besarnya. Fokus utamanya kini bukan sekadar menang, melainkan “berdamai” dengan tubuhnya sendiri untuk menyapu bersih musim clay-court 2026.
Setelah digeser oleh Jannik Sinner menyusul kekalahan di final Monte Carlo Open, Alcaraz kini menatap jadwal padat yang menuntut fisik baja: Barcelona, Madrid, hingga Roma, sebelum akhirnya bertarung di Roland Garros.
Belajar dari Luka Musim Lalu
Alcaraz mengakui bahwa ia kini jauh lebih bijak dibanding 12 bulan lalu. Musim lalu, mimpinya di Madrid harus kandas karena cedera otot adduktor. Kini, pengoleksi tujuh gelar Grand Slam tersebut memilih pendekatan yang lebih mawas diri.
“Target utama saya adalah memainkan seluruh kalender musim tanah liat. Saya merasa kondisi tubuh saya jauh lebih baik sekarang,” ujar Alcaraz.
Namun, ia menegaskan tidak akan memaksakan diri secara membabi buta. “Jika saya harus melewatkan satu turnamen (demi kesehatan), saya akan melakukannya. Saya akan lebih peka terhadap sinyal dari tubuh saya musim ini.”
Tekanan Poin dan Rivalitas Sinner
Ambisi Alcaraz untuk kembali ke puncak dunia bukan perkara mudah. Sebagai juara bertahan di Roma dan French Open, ia memikul beban poin yang sangat besar. Jika terpeleset sedikit saja, jaraknya dengan Sinner bisa semakin menjauh.
Jadwal maraton yang ia rencanakan hanya menyisakan waktu istirahat satu pekan sebelum Grand Slam di Paris dimulai. Ini adalah pertaruhan besar antara ambisi mengejar poin dan risiko kelelahan fisik.
Ujian Pertama: Otto Virtanen
Langkah pertama “Alcaraz versi baru” ini akan diuji di Barcelona Open 2026. Ia dijadwalkan menghadapi petenis Finlandia, Otto Virtanen, di babak pembuka. Turnamen ini menjadi sangat krusial bagi Alcaraz untuk mengembalikan kepercayaan dirinya sekaligus membuktikan bahwa fisiknya memang sudah siap untuk intensitas tinggi di lapangan merah.
Apakah Alcaraz mampu menjaga tubuhnya tetap bugar hingga mengangkat trofi di Paris, ataukah jadwal padat ini kembali menjadi bumerang? Yang jelas, Alcaraz yang sekarang adalah Alcaraz yang lebih mengenal batas kemampuannya sendiri.











