Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan sejak awal berdirinya pada 20 Oktober 1964, Partai Golkar tidak pernah ditakdirkan menjadi partai oposisi.
Menurutnya, Golkar dilahirkan sebagai instrumen politik pemerintah untuk mewujudkan cita-cita proklamasi yang tertuang dalam UUD 1945 dan Pancasila.
“Dalam sejarah Partai Golkar sejak lahir lewat Sekber sampai dengan Pemilu 2024, tidak ada sejarah ketum Golkar itu jadi presiden. Belum ada. Karena memang Golkar itu dilahirkan untuk menjadi instrumen politik pemerintah,” ujar Bahlil dalam sambutannya di acara diklat AMPG, DPP Golkar, Jakarta Barat, Jumat (3/10/2025)
Ia menegaskan tujuan utama Golkar bukanlah menjadikan kadernya sebagai presiden maupun wakil presiden, melainkan memastikan kadernya selalu berada dalam pemerintahan.
“Kita itu harus seperti teh Sosro. Apapun makanannya, minumannya teh Sosro. Artinya, siapapun presidennya, anggota kabinetnya harus dari Golkar. Karena karya-kekaryaan itu di situ. Esensinya di sana,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan Golkar tidak memiliki budaya oposisi. Ia menyebut, setiap kali Golkar mencoba mengambil posisi berseberangan dengan pemerintah, hasilnya selalu berujung kegagalan.
“Kita nggak punya budaya oposisi. Begitu Ketua Umum Golkar mau oposisi, ya lewat barang itu, tunggu hari saja. Dan sudah terjadi berkali-kali. Coba-coba saja coba. Uji nyali. Gak bisa, bos,” tegas Bahlil.
Bahlil menambahkan, Golkar memiliki cita-cita untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan dari kemerdekaan Indonesia.
“Karena Golkar itu lahir sebagai instrumen politik pemerintah dan cita-citanya adalah mewujudkan apa yang menjadi tujuan daripada kemerdekaan kita. Kecitraan, keadilan, kesehatan, pendidikan dan semuanya itu,” pungkasnya.














