Industri Data Center RI Digadang Jadi Raksasa ASEAN, Ini Syaratnya

Industri Data Center RI Digadang Jadi Raksasa ASEAN, Ini Syaratnya


Kebijakan penciptaan iklim investasi yang mendukung dan pemberian insentif diyakini menjadi kunci pertumbuhan ekosistem pusat data (data center) di Indonesia. Dengan prospek ekonomi digital yang ditaksir mencapai US$365 miliar pada 2030, kebutuhan akan data center semakin mendesak di tengah derasnya arus transformasi digital dan adopsi kecerdasan buatan (AI).

Hal ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Peluang dan Tantangan Bisnis Data Center di Indonesia yang digelar di Hotel Nemuru Grand Bellevue, Jakarta Selatan, Jumat (29/8/2025).

 Acara ini menghadirkan Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Denny Setiawan; Associate Director Leads Property, Esti Susanti; Ketua Umum IDPRO, Hendra Suryakusuma; serta Chief Cloud Officer Lintasarta, Gidion Suranta Barus.

WhatsApp Image 2025-08-29 at 17.57.57.jpeg

Regulasi dan Pemerataan

Denny Setiawan menegaskan pemerintah perlu mendorong insentif investasi sekaligus menyederhanakan regulasi agar Indonesia lebih kompetitif dibanding negara tetangga. 

“Agar insentif ini efektif, skemanya harus disertai kepastian kebijakan jangka panjang untuk meyakinkan investor,” ujarnya.

Menurut Denny, insentif pajak bagi penyedia pusat data dan pelanggan yang mengimpor perangkat bisa menjadi daya tarik tambahan. Ia menekankan bahwa pembangunan pusat data baru perlu diarahkan tidak hanya di Batam dan Jakarta/Cikarang, tetapi juga di wilayah Barat, Tengah, dan Timur Indonesia. 

Lokasi ideal sebaiknya dekat dengan titik pendaratan kabel laut (SKKL) untuk meminimalisasi latensi.

Meski PLN memiliki kelebihan pasokan listrik, tarif untuk data center masih tergolong kategori bisnis. Ia menilai penyediaan energi hijau akan menjadi salah satu faktor penting untuk menarik investasi. 

“Data yang terintegrasi secara nasional akan memberikan peta jalan yang lebih terarah untuk pengembangan di masa depan,” katanya.

Peran Properti dan Lintasarta

Associate Director Leads Property, Esti Susanti, menuturkan lonjakan kebutuhan hyperscale data center, komputasi awan, dan AI telah mengubah peta industri ini di Indonesia. 

“Leads Property turut mengiringi perkembangan tersebut dengan menghubungkan kebutuhan investor dengan lahan yang tepat,” jelasnya.

Sementara itu, Gidion Suranta Barus dari Lintasarta menekankan pentingnya kemandirian ekosistem AI. Lintasarta melalui AI Factory dengan GPU Merdeka dan Cloudeka disebut dapat menjadi strategic enabler bagi startup, korporasi, dan lembaga riset dalam negeri.

“Dengan data sovereignty, inovasi AI bisa berkembang tanpa harus bergantung pada infrastruktur asing,” kata Gidion.

Namun, ia mengingatkan distribusi data center masih timpang, dengan 55% kapasitas terpusat di Jakarta. Lintasarta, ujarnya, berkomitmen memperluas backbone connectivity ke wilayah strategis lain dengan layanan high bandwidth, low latency, dan high availability.

Potensi Indonesia Timur

Ketua Umum IDPRO, Hendra Suryakusuma, menyoroti minimnya infrastruktur di Indonesia Timur yang sebenarnya punya potensi investasi besar. 

“Indonesia Timur memerlukan pembenahan kabel fiber optik untuk menunjang operasional data center,” ungkapnya.

Menurut Hendra, data center kini menjadi infrastruktur dasar di era transformasi digital, mulai dari IoT, cloud computing, e-commerce, hingga kota pintar. 

“Evolusi digital butuh volume data, trafik IP, storage, dan processing power yang ujungnya membutuhkan kehadiran data center,” tegasnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today