Gubernur BI Perry Warjiyo bersebelahan dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (no 4 dari kanan depan) saat rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, di Kompleks DPR, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (Foto: Inilah.com/Clara Anna).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo membeberkan alasan memproyeksikan nilai tukar (kurs) rupiah di kisaran Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS, masuk Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027.
Dia meyakini, kondisi perekonomian Indonesia pada tahun depan, tidak akan seburuk tahun ini. “Pertumbuhan ekonomi dunia akan naik ke 3,1 persen, tentu saja kondisi-kondisi yang sekarang, mulai geopolitik dan harapannya akan mendorong inflow ke negara emerging market, termasuk indonesia,” ujar Perry saat raker bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Perry juga menegaskan, kebijakan di sektor moneter dan fiskal didesain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Saat ini, fundamental ekonomi nasional berada pada kondisi kuat.
“Yang selalu disampaikan Pak Menteri Keuangan, saya selalu mengulangi fundamental ekonomi Indonesia itu, baik akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi rendah, defisit transaksi berjalan juga rendah, imbal hasilnya menarik, terus kemudian cadangan devisa lebih dari cukup. Jadi fundamental kita akan mendukung penguatan nilai tukar,” jelas dia.
Perry menjelaskan, terbentuknya PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), sebagai BUMN yang mengawal ekspor komoditas strategis, dinilai dapat meningkatkan devisa hasil ekspor (DHE). Hal ini juga bedampak positif terhadap penguatan rupiah.
“Ekspor satu pintu yang dijalankan PT Danantara Sumber Daya Indonesia, akan meningkatkan ekspor. Kemudian meningkatkan devisa hasil ekspor, meningkatkan penerimaan negara,” paparnya.
Perry benar. Jika itu semua terjadi, tidak hanya berdampak kepada menebalnya fiskal saja. Pada akhirnya akan menopang pertumbuhan ekonomi tinggi. “Dan, cadangan devisa dan nilai tukar bakal menguat signifikan,” tuturnya.
Di sisi lain, Perry menegaskan, BI berkomitmen untuk terus menjaga nilai tukar rupiah agar rebound, melalui intervensi dan berbagai kebijakan moneter. “Jadi lima faktor itu rupiah, Insha Allah tahun depan, menguat Rp16.800-Rp17.500,” tegasnya.
Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, Selasa (9/6), rupiah ditutup di level Rp18.058 per dolar AS. Atau menguat 129 poin yang setara 0,72 persen ketimbang penutupan kemarin. Saat pembukaan, rupiah menguat tipis 0,29 persen, atau setara 54 poin, menjadi Rp18.134/US$.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













