Pelatih Utama Timnas Indonesia Patrick Kluivert (tengah) bersama Ketua Umum PSSI Erick Thohir (kanan) dan Asisten Pelatih Danny Landzaat (kiri). (Foto: Inilah.com/Nondo Adi P)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Sebuah peci hitam tampak sedikit kebesaran di kepala Patrick Kluivert ketika ia diperkenalkan sebagai nakhoda baru Timnas Indonesia, 12 Januari 2025 lalu. Laiknya penutup kepala itu, beban yang ia pikul pun tak kalah besar, menggantikan sosok Shin Tae-yong, pelatih yang telah menorehkan babak emas dalam sejarah perjalanan skuad Garuda.
Di hari perkenalannya pula, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, memuat pernyataan yang kontroversi. Ia menyebut Kluivert dan timnya sebagai ‘tim kepelatihan terbaik’ yang pernah dimiliki Indonesia. Ucapan itu menggema bak janji surga bagi pecinta sepak bola Tanah Air. Namun di lapangan, realitas tak seindah retorika. Strategi megah tak menemukan bentuk, dan reputasi sang legenda Eropa perlahan runtuh di bawah beratnya ekspektasi yang dulu menyambutnya dengan tepuk tangan.
Jika diingat, Kluivert sejatinya bukan orang bola kaleng-kaleng. Namanya harum di seantero Benua Biru, terkhusus bagi kalangan fans Barcelona, AC Milan, Ajax Amsterdam dan Timnas Belanda. Bukan apa, jebolan Ajax itu masih menduduki takhta tertinggi pada daftar pencetak gol termuda di final Liga Champions. Masih berstatus sebagai wonderkid Ajax, namanya dielu-elukan bak pahlawan saat membobol gawang AC Milan di partai final edisi 1994-1995. Kala itu, usianya masih menginjak 18 tahun 327 hari. Tak sampai di situ, Kluivert masih menduduki peringkat keempat pada daftar top skor sepanjang masa timnas Belanda, dengan catatan 40 gol dari 79 penampilan.
Sepintas, ketajamannya sebagai pemain membuat Kluivert dirasa cocok menjadi nakhoda Tim Merah Putih yang selalu bermasalah pada aspek penyelesaian akhir. Selain itu, kesamaan latar belakang dengan sebagian besar pemain naturalisasi dianggap sebagai nilai tambah, membuat PSSI yakin ia bisa menyatukan ruang ganti dan mengangkat level permainan Garuda. Sayangnya, tak sedikit yang mengernyitkan dahi sebab rekam jejak karier kepelatihannya tak sewangi prestasi saat mengolah kulit bundar. Timnas Curacao dan klub Turki Adana Demirspor menjadi saksi betapa bapuknya Kluivert jika berhadapan dengan papan taktik. Karier kepelatihan terpanjangnya hanyalah setahun dua bulan, tepatnya saat menangani Curacao pada kurun Maret 2015 hingga Mei 2016.
Dan benar saja, Timnas Indonesia, yang sudah dibangun dengan susah payah selama lima tahun oleh Shin Tae-yong hancur berkeping-keping. Impian Piala Dunia 2026 yang selama ini digembar-gemborkan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir kini tinggal angan. Tak hanya skor akhir, permainan yang disuguhkan Kluivert juga jauh dari kata mempesona. Belum lagi jam pertandingan ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 selalu lewat tengah malam. Buka hanya para pemain yang menguras peluh di lapangan, pemirsa di Tanah Air juga harus berjuang melawan rasa kantuk sembari menyaksikan laga membosankan.
King Abdullah Sports City, Jeddah menjadi kuburan bagi mimpi 280 juta masyarakat Indonesia, dengan Irak dan Arab Saudi menjadi antagonis utama. Para pemain diaspora yang didatangkan PSSI banjir air mata. Namun bagi publik sepak bola Indonesia, sosok yang dianggap paling bersalah dalam kisah duka ini bukanlah gelandang Irak, Zidane Iqbal, atau bintang Arab Saudi, Saleh Abu Al Shamat. Justru sorotan tajam mengarah kepada Kluivert yang memilih pulang ke Belanda setelah kegagalan itu, serta Erick Thohir bersama jajaran PSSI yang dinilai gagal menjaga arah perjalanan Tim Garuda.
Sibuk Memoles Citra
Sejak awal kedatangannya, Kluivert memang sukar mendapat tempat di hati masyarakat pecinta bola. Apalagi, reputasi sang juru racik 49 tahun diwarnai penuh kontroversi hingga dugaan keterlibatan dalam skandal judi. Wajar, bila akhirnya PSSI justru lebih gemar menabur gula kata di sekitar sosok Patrick Kluivert. Sejak hari pertama diperkenalkan, narasi tentang ‘tim kepelatihan terbaik’ terus digemakan, bagai mantra yang diulang agar publik percaya, semuanya berada di jalur yang benar.
Narasi positif itu makin digencarkan ketika Indonesia meraih dua kemenangan beruntun di bawah arahan Kluivert, menumbangkan Bahrain 1-0 dan China 1-0 dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026 ronde tiga. Salah satu suara paling lantang datang dari anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga, yang bahkan sempat menulis unggahan penuh pujian di media sosial. “Sudah jelas kualitasnya, memang beda. Pemilihan pemain obyektif, tidak ada pemain kesayangan, kesempatan besar diberikan kepada pemain-pemain yang bermain di Liga 1. Permainan mengasyikkan, sampai akhir pertandingan. Maju terus Garuda Senior,” tulis Arya kala itu, mengiringi euforia kemenangan atas China.
Namun, semarak narasi positif itu seketika meredup begitu Indonesia tersingkir dari babak kualifikasi. Arya yang sebelumnya lantang memuji, kini memilih berlindung di balik kalimat pasrah. “Semua yang terlibat dalam perjalanan timnas telah berjuang sejauh ini, Timnas pun sudah bermain semaksimal. Manusia yang berencana, tetap Tuhan yang menentukan. Kami mohon maaf,” ujarnya. Citra yang dibangun sedemikian rapi akhirnya runtuh dengan sendirinya, meninggalkan kesan PSSI terlalu sibuk memoles wajah luar, tanpa benar-benar menata isi di dalamnya.
Pun pada akhirnya, tangan Kluivert memang tak benar-benar dingin. Transfermarkt mencatat, rata-rata poin yang didapatkan Kluivert dari delapan laga melatih Indonesia adalah 1,25 poin per pertandingan. Angka ini tak lepas dari empat kekalahan, satu seri, dan hanya tiga kemenangan yang diberikan Kluivert selama melatih Indonesia. Tiga kemenangan yang diraih Kluivert adalah melawan Bahrain dan China di Kualifikasi Piala Dunia 2026 putaran ketiga, serta melawan Taiwan di FIFA Match Day.
Nestapa Sang Ahjussi
Jika mau menengok ke belakang, langkah-langkah PSSI tampak menerapkan standar ganda dalam memperlakukan pelatihnya. Saat Tim Merah Putih masih di tangan Shin Tae-yong, sinyal pergantian sudah sering ditebar. Seusai kalah 0-4 dari Jepang di ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, foto Erick Thohir yang tertunduk lesu bersandar ke tembok sempat viral disusul ancamannya untuk mundur dari kursi ketua umum dari ruang ganti.
Tekanan terhadap Shin makin terasa ketika target demi target dinaikkan sesuka hati. Di Piala AFF 2024 misalnya, yang awalnya dijadikan ajang uji jam terbang pemain muda, justru berujung kabar pemecatan setelah tim U-22 tersingkir di fase grup. “Tim ini butuh pemimpin yang bisa menerapkan strategi yang disepakati pemain,” kata Erick kala itu. PSSI beralasan, konflik ruang ganti menjadi penyebab, meski Shin bersumpah tak pernah terjadi masalah apa pun dengan pemainnya.
Ironisnya, cara PSSI memperlakukan Kluivert jauh lebih lembut. Tak ada konferensi pers besar, tak ada nada keras. Pengumuman perpisahan dilakukan lewat rilis singkat. dengan alasan ‘kesepakatan bersama’. Bahkan Erick memilih menghindari pertanyaan wartawan soal pemecatan itu. “Untuk yang bola jangan hari ini. Ini tempatnya tidak pas, kasih saya waktu dua hari,” ucapnya baru-baru ini.













