Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan pemaparan dalam taklimat media di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (24/10/2025). (Foto: Antara/Imamatul Silfia)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Untuk mendongkrak perekonomian bisa melenting hingga 6 persen, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, siap mengeluarkan dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp400 triliun yang menganggur di Bank Indonesia (BI).
Targetnya, kata Menkeu Purbaya, tahun depan, pertumbuhan ekonomi harus bisa meroket lebih dari 6 persen. Untuk tahun ini, diproyeksikan mencapai 5,2 persen. Sedangkan khusus di kuartal IV-2025, perekonomian diharapkan bisa menclok di level 5,5 persen.
“Triwulan akhir tahun ini, kita harapkan ekonomi bisa bertumbuh melebihi 5,5 persen. Sehingga kalau full year, bisa 5,2 (persen),” kata Menkeu Purbaya di Jakarta, dikutip Selasa (28/10/2025).
Memasuki bulan November, kata dia, perlu lebih dicermati pergerakan ekonomi nasional. Kalau memang masih lamban, dia tak segan-segan untuk memanfaatkan dana SAL Rp400 triliun itu untuk stimulus perekonomian.
“Ini masih Oktober, sebentar lagi habis. Kita akan lihat akhir Oktober ini, seperti apa. Kalau masih belum cepat, saya akan gelontorkan lagi dari kas saya yang di bank sentral (BI) ke sistem perekonomian. Supaya ekonominya jalan cepat,” lanjut Menkeu Purbaya.
Dia berjanji akan terus mendorong pergerakan ekonomi Indonesia, menjadi lebih cepat dari tahun ke tahun. Tahun depan, Menkeu Purbaya menargetkan tumbuh 6 persen. Naik lagi menjadi 7 persen pada tahun berikutnya dan sebesar 8 persen di tahun kelima pemerintahan Prabowo Subianto.
“Saya harapkan tahun depan (2026), pertumbuhan ekonomi bisa di atas 6 persen. Selama program-program dijalankan, harusnya (perekonomian) bisa lebih cepat.
Karena private sektor, tahun depan, saya harapkan bisa lebih aktif. Tahun depannya lagi, bisa lebih cepat lagi. Hingga tahun kelima Pak Prabowo ya, sudah mulai lihat tuh bayangan-bayangan ke-8 persen,” beber Menkeu Purbaya.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya telah melakukan langkah penting, yakni memindahkan dana SAL sebesar Rp200 triliun yang selama ini diparkir di BI, ke 5 bank pelat merah.
Tujuannya agar perbankan mengelontorkan dana segar ke sektor riil. Kalau itu terjadi, perputaran roda perekonomian dipastikan semakin kencang. Dalam keputusan itu, Menteri Purbaya menggelontorkan dana masing-masing Rp55 triliun ke BRI, Bank Mandiri dan BNI. Sedangkan BTN kebagian jatah Rp25 triliun dan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebesar Rp10 triliun.
Dana SAL yang menganggur di BI, menurut Menkeu Purbaya, angkanya cukup besar. Setidaknya mencapai Rp500 triliun. Cukup sayang jika dana tersebut tidak dimanfaatkan untuk mendorong perekonomian. Apalagi, pemerintah harus mengalokasikan dana untuk bunga Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 6 persen per tahun.
“Saya harus membayar bunga Rp24 triliun per tahun, dari Rp400 triliun duit negara yang disimpan di bank sentral (BI). Biaya yang dikeluarkan dari inefisiensi pengelolaan anggaran, merupakan kerugian negara,” ungkapnya.
Untuk itu, Menkeu Purbaya telah meminta anak buahnya di Direktorat Jenderal (Ditjen) Anggaran Kemenkeu, untuk mempelajari semua aspek hukum. Ini ditempuh demi memindahkan duit Rp400 triliun ke APBN.
“Saya sedang berpikir, sekarang tuh masih ada sekitar Rp400 triliun di luar sistem APBN, tepatnya di BI. Tapi enggak bisa masuk ke penerimaan negara. Saya suruh pelajari, anak buah saya di anggaran, bisa enggak itu (dipindahkan)? Pelajari semua hukum yang ada, yang memungkinkan uang itu masuk ke APBN,” tegasnya.
Manfaat dari dana SAL sebesar Rp400 triliun itu, kata Menkeu Purbaya, bisa digunakan untuk menambal defisit anggaran. “Selain untuk mendorong perekonomian, juga bisa untuk menambal defisit. Tapi, optimalisasi manajemen cash flow memang sangat penting,” sambung Purbaya.











