Airlangga Hartarto tiba di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (20/10/2024). (Foto: Antara/Mentari)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto membuka peluang pemerintah untuk kembali melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS), terkait tarif resiprokal impor.
Dia mengungkapkan, pemerintah berencana melakukan negosiasi saat agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 digelar di Afrika Selatan (Afsel), pada November ini. “Kita sedang bicarakan mengenai waktu kan dalam waktu dekat ada G20,” ujar Menko Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Meski begitu, Menko Airlangga mengaku masih mendiskusikan terkait jadwal negosiasi tarif resiprokal dari pemerintah AS. “Belum (di G20) kita masih bicarakan mengenai jadwal negosiasi dulu,” kata dia.
Sebelumnya, Menko Airlangga mengatakan, tarif dagang antara Indonesia dan AS yang ditetapkan 19 persen, berlaku mulai 7 Agustus 2025. Tarif tersebut telah diumumkan bersamaan dengan 92 negara lainnya.
“Sudah diumumkan (tarif) 92 negara, dan Indonesia kan seperti kita ketahui sudah selesai (sepakat) dan berlaku tanggal 7 (Agustus),” ujar Menko Airlangga kepada wartawan, Senin (4/8/2025).
Menurutnya, tarif 19 persen yang didapatkan Indonesia merupakan salah satu yang terendah di kawasan Asia Tenggara, kecuali Singapura yang mendapat tarif hanya 10 persen dari AS. “Seluruh negara ASEAN hampir selesai (negosiasi) dan negara-negara ASEAN,” kata dia.
Dengan besaran tarif tersebut, lanjut Menko Airlangga, Indonesia masih memiliki peluang di pasar ekspor ke Amerika Serikat terutama dengan negara-negara kompetitor seperti Thailand dan India.
“Selama ini juga sama, punya competitiveness terhadap Thailand maupun Malaysia dan sektornya agak mirip tapi ada perbedaan juga, yang penting india agak tinggi sedikit,” jelas dia.
Lebih lanjut, dia menjelaskan ada beberapa komoditas yang mendapat tarif impor nol persen seperti konsentrat tembaga (copper concentrate) dan katoda tembaga (copper cathode).
“Bahkan untuk copper concentrat, copper cathode di nol (persen) kan. Jadi itu yang sejalan dengan pembicaraan untuk mineral strategis antara lain copper dan itu AS sudah umumkan juga. Jadi itu yang Indonesia sebut industrial comodities, jadi secondary process sesudah ore, sudah sejalan dengan apa yang kemarin diumumkan juga oleh menteri perdagangan dari Gedung Putih,” tandasnya.














