Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat ditangkap oleh pasukan khusus AS Delta Force. (Foto: CBS News)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak dunia tercatat melemah pada awal perdagangan pekan ini, Senin (5/1/2026), seiring meningkatnya tensi geopolitik setelah operasi militer AS di negara pemilik cadangan minyak mentah terbesar di dunia tersebut.
Mengutip Channel News Asia, pada perdagangan pagi di Asia, harga minyak mentah Brent turun 0,21 persen ke level 60,62 dollar AS per barrel. Sementara itu, harga minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), melemah 0,35 persen menjadi 57,12 dollar AS per barrel.
Meski sempat bergerak naik dari titik terendah sesi sebelumnya, kedua harga acuan minyak tersebut masih berada di zona merah. Pelemahan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi bertambahnya pasokan minyak global, khususnya dari Venezuela, yang selama bertahun-tahun produksinya tertekan akibat sanksi internasional dan minim investasi.
Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan operasi militer ke Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat. Operasi tersebut menyasar sejumlah target militer dan berujung pada penahanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya. Keduanya kemudian dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba di New York.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya kini akan “mengelola” Venezuela. Ia juga mengatakan perusahaan-perusahaan Amerika akan dikirim untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang selama ini mengalami kerusakan parah. Pernyataan tersebut memperkuat spekulasi pasar mengenai kemungkinan peningkatan produksi dan pasokan minyak Venezuela ke pasar global.
Di tengah gejolak global tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan kondisi harga dan pasokan minyak di dalam negeri masih aman. Pemerintah menilai konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela belum berdampak langsung terhadap Indonesia karena tidak bergantung pada impor minyak dari negara tersebut.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi pasar energi internasional.
“Yang jelas kondisi di negara saat ini stabil. Kita sumber crude-nya itu bukan dari sana. Jadi, dari wilayah lain. Jadi masih stabil,” ujar Laode saat ditemui usai Penutupan Posko Nataru Sektor ESDM di Kantor BPH Migas, Senin (5/1).
Laode menegaskan, hingga kini pemerintah belum melihat adanya dampak langsung konflik AS-Venezuela terhadap pasar minyak domestik.
“Pada saat ini, hari ini, kami belum melihat (dampaknya),” kata dia.
Meski demikian, Laode menekankan pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan. Kementerian ESDM akan terus memantau perkembangan situasi global, terutama jika konflik tersebut berlangsung berkepanjangan dan memicu perubahan signifikan di pasar energi dunia.
“Antisipasi itu selalu ada. Kita akan terus pantau dulu,” ujarnya.














