Merespons anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 3,31 persen, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, fundamental ekonomi Indonesia memiliki ketahanan yang solid.
Dia optimistis, IHSG bakal pulih bahkan berpeluang terus meroket hingga level tinggi. “Kuartal kedua, tercatat pertumbuhan (ekonomi) 5,12 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan indikator utama, seperti PMI indeks kembali di atas 50, yaitu 51,5 didukung ekspansi output dan permintaan baru. Juli kemarin di 49,2,” kata Menko Airlangga di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/9/2025).
Meski IHSG di perdagangan terakhir ditutup merah, Menko Airlangga menegaskan, performa indeks dalam sepekan terakhir, cukup baik dengan torehan all time high (ATH) di level 7.926. Tepatnya saat penutupan pasar tanggal 25 Agustus 2025.
Indikator lainnya, lanjut mantan Ketua Umum Partai Golkar itu, nilai tukar rupiah relatif stabil di level Rp16.490 per dolar AS, meskipun sempat terdepresiasi 2,35 persen sejak awal tahun.
Dia juga memastikan, neraca perdagangan Indonesia konsisten mencatatkan surplus, serta konsumsi domestik yang masih kuat dan mobilitas masyarakat yang tetap tinggi. Untuk menjaga daya beli masyarakat pemerintah juga memberikan stimulus seperti program diskon belanja 17 persen di kuartal IV menjelang Natal dan tahun baru.
Dari segi investasi, kata dia, impor barang modal tumbuh 32,5 persen di kuartal II-2025. Sejalan indeks PMI yang meningkat, kondisi ini menjaga peluang ekspansi industri pada kuartal III tahun ini.
Saat yang sama, lanjutnya, perekonomian di daerah, mengalami perputaran uang dari berbagai transaksi yang cukup besar. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat pertumbuhan dan aktivitas ekonomi secara spasial.
“Terkait dengan situasi terkini, dengan fundamental ekonomi yang solid, pemerintah yakin dampak dari dinamika sosial politik yang terjadi terhadap ekonomi, harapannya bersifat jangka pendek dan pemerintah terus mendorong optimisme untuk jangka menengah dan jangka panjang,” pungkasnya.
Mengingatan saja, perdagangan Jumat (29/8/2025), kapitalisasi pasar saham menghilang Rp195 triliun, terdampak eskalasi demonstrasi di Jakarta dan sejumlah kota lainnya.
Di mana, IHSG ditutup anjlok 1,53 persen ke level 7.830,49, sehingga kapitalisasi pasar modal Indonesia menjadi Rp14.182 triliun. Dari nilai transaksi ini, investor asing melakukan beli senilai Rp6,3 triliun dan jual Rp7,42 triliun atau terjadi jual bersih senilai Rp1,12 triliun.
Kondisi ini membuat net sell asing dari pasar modal Indonesia sepanjang tahun berjalan melebar menjadi Rp50,94 triliun. Pada perdagangan Jumat, saham BCA (BBCA) menjadi penekan terbesar IHSG setelah melemah 3 persen atau mengurangi nilai IHSG 17,84 poin.














