Ilustrasi polemik skema kuota hangus vs rollover kuota. (Foto: Generator AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Bagi netizen yang hobi protes kuota hangus, sebaiknya mulai berhitung ulang. Ambisi menghapus sistem “kuota expired” demi skema akumulasi (rollover) justru berpotensi menjadi bumerang yang mencekik kantong masyarakat luas melalui kenaikan tarif layanan operator internet.
Kepala Pusat Ekonomi Digital dan UMKM INDEF, Izzudin Al Farras, mengingatkan bahwa ada harga mahal yang harus dibayar demi sebuah memperjuangkan kuota sisa. Jika skema hangus hilang, risiko operasional operator membengkak, dan konsumen yang bakal menanggung bebannya.
“Pada satu sisi, penghapusan ‘kuota hangus’ dapat menyebabkan peningkatan risiko bagi operator telekomunikasi sehingga dapat berimplikasi pada kenaikan harga di konsumen maupun penurunan kemampuan investasi jaringan yang memang berbiaya tinggi,” kata Farras kepada Inilah.com, Selasa (24/2/2026).
Artinya, sistem kuota hangus yang selama ini dicaci maki sebenarnya adalah subsidi terselubung yang menjaga harga internet di Indonesia tetap ramah di kantong. Tanpa skema ini, operator kemungkinan besar bakal mengerek harga paket data untuk menutupi beban kapasitas yang tak terukur.
Farras menilai pemerintah harus hati-hati mendesain kebijakan ini. Jangan sampai demi memuaskan segelintir pengguna yang ingin kuotanya awet, akses internet bagi masyarakat kecil di penjuru negeri malah jadi barang mewah karena harganya melambung.
“Padahal, spektrum merupakan sumber daya dan hak milik publik,” ujarnya. Maka, fokus seharusnya bukan cuma soal sisa kuota, tapi bagaimana menjaga industri tetap sehat agar investasi jaringan tak mandek.
Sebagai solusi agar tarif tidak meledak, Farras menyarankan pemerintah mengevaluasi biaya spektrum atau PNBP yang selama ini membebani operator. Jika pemerintah mau menurunkan setoran dari industri telko, barulah janji internet murah tanpa kuota hangus bisa masuk akal.
“Pemerintah dapat menurunkan PNBP dari industri telekomunikasi, namun memastikan bahwa operator berkomitmen menjalankan investasi R&D, perluasan cakupan dan jangkauan, serta peningkatan investasi yang lebih masif ke depannya,” cetus Farras.
Ia pun mengusulkan agar sisa pendapatan dari kuota hangus dikelola menjadi dana abadi digital, agar rakyat kecil tetap bisa menikmati akses tanpa takut harganya jadi selangit.
“Dengan demikian, paket internet murah meriah dapat senantiasa dibeli oleh masyarakat kecil dan bahkan diperluas aksesnya hingga ke seluruh penjuru negeri,” pungkasnya.















