Rupiah Loyo Gara-gara Ekonomi Rapuh atau Geopolitik Timur Tengah? Begini Analisis Pengamat

Rupiah Loyo Gara-gara Ekonomi Rapuh atau Geopolitik Timur Tengah? Begini Analisis Pengamat

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$) disebut bukan hanya dipicu tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng). Apa saja biang keroknya?

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai ada faktor domestik yang turut memperparah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini berada di atas Rp17.000/US$.

“Kalau pelemahan mata uang rupiah ini sebetulnya bukan hanya masalah tensi geopolitik di Timur Tengah. Ini juga terkait depresi anggaran. Kita lihat memang perang di Timur Tengah ini cukup luar biasa, apalagi setelah Selat Hormuz ditutup,” ujar Ibrahim kepada Inilah.com di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Menurutnya, memanasnya konflik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz, berdampak besar terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak mentah tersebut kemudian merembet ke biaya transportasi dan mendorong inflasi, terutama pada barang-barang impor.

“Nah kenaikan signifikan ini akhirnya beralih ke biaya transportasi, kemudian ke inflasi. Dampaknya terhadap barang-barang impor. Nah barang-barang impor ini mengalami kenaikan sehingga membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” katanya.

“Dan selain itu juga, mahalnya harga minyak mentah membuat pemerintah membutuhkan dolar yang cukup banyak,” tambahnya.

Di sisi lain, kebutuhan impor minyak Indonesia yang mencapai sekitar 1 juta barel per hari membuat permintaan dolar AS meningkat. Hal ini dinilai menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah.

“Karena kebutuhan impor minyak kita itu 1 juta barel per hari. Ini mengindikasikan bahwa pemerintah membutuhkan dana yang cukup besar. Sementara saat ini pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi maupun nonsubsidi, sehingga dampaknya cukup besar,” jelasnya.

Ibrahim juga menyoroti kebijakan anggaran pemerintah yang dinilai terlalu ekspansif di tengah sempitnya ruang fiskal. Meski telah dilakukan pengetatan anggaran di kementerian dan lembaga, sejumlah program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga belanja alutsista tetap menyerap dana besar.

Kondisi ini dikhawatirkan mendorong defisit anggaran mendekati ambang batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai UU tentang Keuangan Negara.

“Sehingga ini yang membuat terjadinya defisit anggaran. Ada ketakutan defisit anggaran itu akan mendekati level 3 persen,” imbuhnya.

Ia menilai pemerintah perlu mempertimbangkan langkah strategis, termasuk penyesuaian harga BBM, untuk menjaga stabilitas fiskal dan nilai tukar. Apalagi saat rupiah berada di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS, beban impor energi menjadi semakin berat.

“Nah memang selama ini kita biasa-biasa saja. Tetapi pada saat harga rupiah kembali ke Rp17.300–Rp17.400, berarti pemerintah akan kesulitan untuk melakukan pembelian minyak mentah dalam jumlah sebesar itu,” tuturnya.

Data pasar spot menunjukkan rupiah ditutup pada level Rp17.189 per dolar AS. Angka ini melemah 0,29 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp17.139 per dolar AS.

Pergerakan itu sempat mencemaskan pelaku pasar. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terendah intraday di Rp17.194 per dolar AS pada pukul 14.19 WIB sebelum akhirnya sedikit menguat menjelang penutupan perdagangan.

Visited 7 times, 1 visit(s) today