Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.804 per dolar AS pada perdagangan Jumat (19/6/2026) sore. (Foto: Shutterstock)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpaksa parkir di zona merah pada akhir perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda ditutup melemah tipis ke level Rp17.804 per dolar AS pada perdagangan Jumat (19/6/2026) sore, mengalami penurunan 8 poin atau sekitar 0,06 persen dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Loyonya pergerakan rupiah kali ini ternyata sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga kompak tiarap menghadapi keperkasaan dolar AS.
Berdasarkan data pasar Jumat sore, ringgit Malaysia memimpin pelemahan di Asia setelah terdepresiasi sebesar 0,62 persen. Langkah ke bawah ini diikuti oleh peso Filipina yang merosot 0,33 persen, dolar Singapura melemah 0,14 persen, yuan China terkoreksi 0,11 persen, dan dolar Hong Kong yang turun tipis 0,02 persen.
Kendati demikian, masih ada sebagian mata uang Asia yang mampu melawan arus dan bergerak menguat. Won Korea Selatan tercatat terapresiasi cukup tajam sebesar 0,75 persen, disusul yen Jepang yang naik tipis 0,06 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Kondisi tak jauh berbeda juga menular ke kelompok mata uang negara maju, di mana sebagian besar dari mereka tak berdaya menahan gempuran dolar AS.
Franc Swiss dilaporkan turun 0,22 persen, poundsterling Inggris melemah 0,07 persen, euro Eropa terkoreksi 0,03 persen, serta dolar Kanada yang turun tipis 0,01 persen. Praktis, hanya dolar Australia yang menjadi satu-satunya mata uang negara maju yang mampu menguat dengan kenaikan 0,04 persen.
Sinyal Suku Bunga The Fed Kian Galak
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa motor utama di balik keperkasaan dolar AS belakangan ini tidak lain adalah sikap hawkish atau agresif dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kebijakan tersebut membuka peluang lebar-lebar bagi adanya kenaikan suku bunga lanjutan hingga penghujung tahun nanti.
Ibrahim membeberkan bahwa sembilan dari 19 pembuat kebijakan di tubuh The Fed hingga kini masih memproyeksikan setidaknya bakal ada satu kali lagi kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Sikap keras tersebut langsung memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan sukses mendongkrak indeks dolar AS ke level tertingginya dalam lebih dari setahun terakhir.
Imun Domestik dari Keputusan Manis MSCI
Meski didera tekanan eksternal yang begitu kuat, nasib rupiah dari dalam negeri sebenarnya masih dinaungi sentimen positif. Ibrahim menilai pasar merespons sangat baik keputusan lembaga indeks global, MSCI, yang tetap mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market alias pasar berkembang.
“MSCI mengumumkan posisi Indonesia masih berada di level negara berkembang atau emerging market karena Indonesia mendapat sejumlah keunggulan pada aspek keterbukaan pasar,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.
Keputusan krusial dari MSCI ini berhasil meredakan kecemasan akut para pelaku pasar terkait risiko penurunan kelas (downgrade) status pasar finansial Indonesia. Sentimen positif ini sekaligus membuka kembali keran masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Ibrahim menambahkan, suntikan optimisme dari MSCI inilah yang membuat rupiah akhirnya hanya ditutup melemah tipis pada sore ini. Padahal, pada awal sesi perdagangan, mata uang Indonesia sempat babak belur dan tertekan hebat hingga kedodoran 55 poin.
Untuk perdagangan pada Senin (22/6/2026) pekan depan, rupiah diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif namun memendam kecenderungan melemah dalam rentang harga Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














