Senyum Dua Jempol di Tengah Asap Bakpao

Senyum Dua Jempol di Tengah Asap Bakpao

Rizki Medium.jpeg

Sabtu, 11 Oktober 2025 – 09:00 WIB

 Yatno (55 tahun) penjual bakpao di daerah Rawamangung, Jakarta Timur. (Dokumentasi: Inilah.com/ Rizky Aslendra Putra)

Yatno (55 tahun) penjual bakpao di daerah Rawamangung, Jakarta Timur. (Dokumentasi: Inilah.com/ Rizky Aslendra Putra)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Di tepi Jalan Bypass, dekat halte Rawamangun, Jakarta Timur, seorang lelaki paruh baya berdiri. Lampu kecil di sisi gerobak itu memantulkan cahaya remang ke jalan yang gelap, seolah menjadi satu-satunya penerang di antara kelap-kelip lampu kendaraan yang melintas.

Namanya Yatno, 55 tahun. Tatapannya menerawang mengikuti arus lalu lintas yang berisik, sebelum senyum mengembang di wajahnya begitu seorang pelanggan menghampiri. Dari balik bibirnya yang menua, dua gigi tersisa menampakkan diri, senyum yang mungkin lebih terang daripada lampu gerobak bakpao yang menemaninya setiap malam.

“Halo, Mas. Berapa biji? Rp8 ribu aja, enggak mahal-mahal,” sapanya ramah kepada Inilah.com, Jumat (10/10/2025). 

Tangan Yatno yang kurus dan berurat tampak cekatan memegang sumpit kayu. Ia membuka tutup kukusan besar, dan seketika uap panas menyeruak, menghangatkan udara malam yang menusuk setelah hujan. Aroma manis tepung dan gula terasa. Ia mengambil dua bakpao, isi ayam dan cokelat, lalu membungkusnya dengan plastik. 

“Ini, Mas. Masih panas,” katanya sambil tersenyum lagi.

Di sela hiruk pikuk knalpot dan lampu kendaraan yang tak henti melintas, Yatno mulai bercerita. Dulu, ia hanyalah seorang kondektur bus di Wonogiri. 

“Tapi fisik udah enggak kuat. Mata juga sudah kabur,” kenangnya pelan. 

Sepuluh tahun lalu, ia memutuskan merantau ke Jakarta, mengikuti ajakan seorang teman untuk berjualan bakpao keliling. Baginya, hidup sederhana bukan alasan untuk menyerah. 

“Walau umur udah senja, saya enggak mau nyusahin anak-anak. Pokoknya selama masih bisa usaha, ya jalan terus,” ujarnya, sembari mengusap keringat di dahi.

Di setiap Pagi, pria berkulit sawo matang itu bekerja di pabrik tempat bakpao dibuat. Bersama beberapa rekannya yang juga berasal dari Jawa Tengah, ia menyiapkan adonan dari tepung, ragi, dan air hangat. 

“Caranya, adonan tepung, telur, gula diaduk pelan, terus digulung, dipotong-potong, ditunggu sejenak. Baru diisi cokelat, ayam, atau kacang hijau,” tuturnya.

Ia bercerita, setelah adonan kalis, adonan itu ditutup kain basah dan dibiarkan mengembang sekitar tiga puluh menit. Saat dibuka, teksturnya membesar, lembut, seolah berisi napas baru. 

“Harus sabar. Kalau terburu-buru, bakpaonya bisa bantet,” ujarnya. 

Siang hari, ia tidur sebentar melepas lelah. Sore menjelang, Yatno kembali ke pabrik untuk mengisi gerobaknya dengan 60 bakpao berbagai rasa. Ia tak punya motor seperti pedagang lain, lebih memilih berjalan kaki dari pabrik menuju Bypass. Motor, baginya, terlalu mahal. Anehnya, justru cucunya yang ia belikan motor, ia begitu bahagia membahagiakan orang lain, dan tak mau merepotkan.

“Teman-teman pakai motor, cucu saya juga minta, ya saya beliin. Yang penting saya masih bisa usaha,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Setiap malam, Yatno menunggu pelanggan. Kadang ia termenung menatap jalanan, namun wajahnya seketika cerah saat seseorang berhenti membeli. Jika dagangan habis, ia bisa membawa pulang sekitar Rp200 ribu. Kalau tidak, ia tetap bersyukur. 

“Pokoknya senyum terus. Ngapain dibikin pusing? Udah tua ini,” katanya, mencoba menghibur dirinya sendiri.

Yatno mengaku sempat bermimpi membuka usaha sendiri, tapi modal jadi kendala. Meski begitu, ia tidak kehilangan harapan. 

“Pengen buka usaha, tapi modalnya banyak. Yang penting sekarang senang jualan, bisa ketemu pelanggan, bisa senyum,” ucapnya.

Ketika Inilah.com izin pamit pergi, Yatno kembali memberikan senyum, bersama dua jempolnya, seperti simbol kecil keteguhan hidup. Di tengah kerasnya Jakarta, Yatno bukan sekadar menjual bakpao, ia menjajakan semangat untuk tetap bertahan, untuk tidak menyerah pada usia dan keadaan.

Dan di setiap malamnya, ia pun menutup kisahnya dengan hening. Di bawah cahaya lampu jalan yang sayup, Yatno mendorong gerobak tuanya perlahan menjauh, meninggalkan aroma tepung manis yang tertinggal di udara, seperti jejak sederhana dari seorang lelaki yang hidupnya mungkin kecil, tapi senyumnya besar bagi dunia.

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today