Ilustrasi-Pertumbuhan ekonomi. (Foto: Freepik).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Meski pergantian tahun masih lebih dari sebulan, Institute for Development of Economics & Finance (Indef) telah mengeluarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan. Angkanya meleset dari target yang dicanangkan pemerintah dan DPR (APBN).
Mengutip laporan Menata Ulang Arah Ekonomi Berkeadilan dari Indef, Selasa (25/11/2025), pertumbuhan ekonomi pada 2026 diperkirakan hanya mencapai 5 persen. Di bawah target pertumbuhan yan dianangkan dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
“Mempertimbangkan berbagai tantangan dan dinamika ekonomi maka Indef memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 5 persen,” tulis Indef.
Menurut Indef, pertumbuhan sebesar 5 persen, bukanlah sekadar persoalan angka, Akan tetapi ada persoalan struktur. Di mana, pertumbuhan ekonomi harus mampu meningkatkan produktivitas, memperluas basis industri, dan memperbaiki kesejahteraan tenaga kerja.
Indef menilai, target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen, akan sulit tercapai jika tidak disertai berbagai kebijakan yang mampu mendulang kinerja berbagai indikator pembentuk pertumbuhan ekonomi.
Asal tahu saja, Indef masih cukup yakin bahwa pertumbuhan ekonomi masih akan bergantung kepada konsumsi. Artinya, daya dorong sektor investasi dan ekspor terhadap perekonomian nasional, masih terbatas.
Untuk investasi tetap bruto (GFCF/Gross Fixed Capital Formation) diperkirakan hanya tumbuh 6-7 persen. Namun, mayoritas masih terkonsentrasi di proyek-proyek hilirisasi mineral dan sektor non-tradable, seperti konstruksi dan transportasi, yang efek penggandanya relatif kecil terhadap peningkatan produktivitas agregat.
“Sementara ekspor nonmigas menghadapi tekanan akibat moderasi harga komoditas global, ditambah lagi melemahnya permintaan dari China, sebagai mitra dagang utama Indonesia,” tulis Indef.
Dari sisi stabilitas makro, inflasi diperkirakan masih akan terkendali pada tahun depan. Akan tetapi, stabilitas harga yang terjadi saat ini lebih banyak disumbang oleh masih lemahnya permintaan domestik dan kontrol harga pangan, bukan oleh peningkatan efisiensi sektor produksi.














