Gelaran SEA Games 2025 di Thailand terancam dikenang sebagai salah satu edisi terburuk dalam sejarah. Belum selesai masalah kegagalan logistik yang dikeluhkan banyak kontingen, kini gelombang protes terkait kinerja wasit semakin memperparah kekacauan pesta olahraga dua tahunan ini.
Isu keberpihakan wasit (refereeing controversies) merebak di hampir semua cabang olahraga, memicu frustrasi massal dari delegasi negara-negara peserta, termasuk Vietnam, Malaysia, Indonesia dan Filipina.
Sepak Bola Wanita
Sorotan tajam tertuju pada final sepak bola wanita antara Vietnam melawan Filipina, Rabu (17/12). Laga ini diwarnai keputusan kontroversial yang merugikan Vietnam.
Pelatih Timnas Wanita Vietnam, Mai Duc Chung, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyebut wasit menolak memberikan penalti yang jelas saat handball terjadi di kotak terlarang, serta menganulir gol yang sah karena dianggap offside.
“Setiap wasit yang memimpin sepak bola wanita di SEA Games ini di bawah standar,” kecam Mai Duc Chung.
Bela Diri Jadi Lumbung Masalah
Kekacauan paling parah terjadi di cabang olahraga bela diri yang penilaiannya bersifat subjektif.
Di cabang Pencak Silat, pesilat Vietnam Vu Van Kien didiskualifikasi secara membingungkan saat memimpin poin atas lawannya dari Thailand. Wasit menuduhnya melakukan tendangan ke wajah, sebuah keputusan yang memicu perdebatan panas. Hal ini senada dengan insiden tim Malaysia yang sebelumnya sampai menyerang wasit karena merasa dicurangi.
Di cabang Muay Thai, atlet Vietnam Hoang Khanh Mai memilih mundur (walk out) dari semifinal sebagai bentuk protes atas penilaian juri yang tidak masuk akal.
Pejabat Federasi Muay Thai Ho Chi Minh, Giap Trung Thang, menyebut keputusan wasit sangat tidak konsisten. Bahkan ironisnya, ketidakbecusan wasit juga menimpa atlet Thailand sendiri yang kalah dari Malaysia meski mendominasi laga, menunjukkan inkompetensi wasit yang merata.
Anomali di Ring Tinju
Kecurigaan adanya “permainan tuan rumah” semakin menguat melihat data di cabang Tinju. Presiden Asosiasi Tinju Filipina, Ricky Vargas, menyoroti fakta yang sangat tidak wajar: Petinju Thailand berhasil lolos ke 16 dari 17 partai final yang dipertandingkan.
Konsentrasi finalis tuan rumah yang begitu tinggi ini dinilai “sangat tidak biasa” dan memicu kekhawatiran bahwa netralitas wasit sudah hilang sepenuhnya.
Krisis Kredibilitas
Rangkaian kontroversi ini dinilai telah mencederai semangat sportivitas. Para pengamat olahraga Asia Tenggara memperingatkan bahwa tanpa reformasi sistem perwasitan dan penggunaan teknologi (seperti VAR atau Video Review), SEA Games akan terus kehilangan kredibilitasnya.
Jika terus dibiarkan menjadi “panggung drama tuan rumah”, ajang ini dinilai hanya akan menjadi kompetisi “kolam dangkal” yang gagal mempersiapkan atlet untuk level yang lebih tinggi seperti Asian Games atau Olimpiade.














