Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ada kabar buruk terkait nilai tukar mata uang garuda yang terus melemah. Pada penutupan perdagangan Kamis (5/3/2026), rupiah ambruk mendekati Rp17.000/US$. Tepatnya menclok di level Rp16.903/US$.
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi bahkan memiliki ramalan yang membuat ciut nyali. Dia bilang, nilai tukar rupiah berpeluang ‘ndelosor’ ke titik terendah yakni Rp17.400/US$ di akhir tahun.
Kok Bisa? Ya bisalah, jika rupiah jadi bulan-bulanan sentimen negatif dari perang Timur Tengah (Timteng) yang memanas, terganggunya Selat Hormuz, perang dagang, hingga perpolitikan di Amerika Serikat (AS).
“Bisa Rp17.400 per dolar AS di akhir tahun. Ini kemungkinan besar karena Timur Tengah yang memanas, selat Hormuz masih tutup, kemudian perang dagang, perpolitikan di Amerika yang kemungkinan besar akan tercapai ke situ,” kata Ibrahim.
Bulan ini, kata dia, rupiah berpeluang besar menyentuh level psikologis Rp17.000/US$. Atau dalam jangka pendek. Sementara hingga akhir tahun akan banyak sentimen yang bisa memengaruhi peningkatan nilai tukar rupiah.
“Trump saja yang mahkamah konstitusi sudah ilegalkan perang dagang masih menerapkan perang dagang 15 persen kan. Artinya apa? Ini kan masih membuat perpolitikan di Amerika akan memanas,” tutur dia.
Ibrahim menyebut eskalasi AS dan Israel terhadap Iran meluas dan memperparah infrastruktur energi di negara-negara Teluk hingga kapal tanker di Selat Hormuz.
Perang rudal Israel dan AS mengeroyok Iran, menyebabkan jutaan penduduk berlindung di tempat perlindungan bom saat konflik memasuki hari keenam. Dan, hanya beberapa jam setelah upaya untuk menghentikan serangan udara AS diblokir di Washington.
Pada Rabu (4/3), kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka, menewaskan sedikitnya 80 orang, dan pertahanan udara NATO menghancurkan rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki.
“Pasukan Iran telah menyerang kapal tanker minyak di atau dekat Selat Hormuz. Ledakan dilaporkan terjadi di dekat sebuah kapal tanker di lepas pantai Kuwait, menurut Operasi Perdagangan Maritim Inggris,” ujarnya.
Eskalasi tersebut terjadi ketika putra pemimpin tertinggi Iran yang telah tewas muncul sebagai kandidat terdepan untuk menggantikannya, menunjukkan bahwa Teheran tidak akan menyerah pada tekanan, lima hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye militer yang telah menewaskan ratusan orang dan mengguncang pasar global.














