Kecanggungan Ojol di Istana Wapres Gibran, Benarkah Hanya Settingan?

Kecanggungan Ojol di Istana Wapres Gibran, Benarkah Hanya Settingan?


Dialog Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Istana Wapres, Minggu (31/8), yang semula dimaksudkan sebagai ajang menyerap aspirasi justru berubah menjadi polemik berkepanjangan.

Ketua Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, menegaskan para pengemudi yang hadir bukan bagian dari komunitas ojol yang berada di lapangan saat tragedi Affan Kurniawan – driver yang tewas terlindas rantis polisi. Ia menyebut wajah-wajah yang duduk bareng Gibran tak dikenal dan menilai Sekretariat Wapres ceroboh mengundang pihak yang tidak mewakili komunitas resmi.

“Mereka tidak pernah ada di lokasi. Kok tiba-tiba sudah bisa buka statement damai? Ini pengalihan,” kata Igun.

Nada serupa datang dari Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), Lily Pujiati, yang menyoroti bahasa salah satu driver dalam video Setwapres. Ia menilai diksi seperti taruna dan eskalasi bukan bahasa sehari-hari ojol.

“Bahasa aneh menurut kami. Biasanya ojol bilang nyender, gacor, anyep. Kalau bahasa di video itu terlalu tinggi,” ujarnya.

Kritik publik makin keras setelah muncul sorotan soal sepatu Air Jordan mahal hingga jaket ojol yang tampak baru dan kinclong. Banyak netizen menilai pertemuan itu tidak otentik, melainkan sekadar panggung pencitraan politik.

Di sisi lain, aplikator seperti GoTo, Grab, Maxim, dan inDrive membela diri.

Mereka mengonfirmasi bahwa driver yang hadir adalah mitra resmi dan aktif, bahkan ada yang tercatat sejak 2015. Perusahaan menegaskan bahwa kehadiran mitra merupakan respons atas undangan resmi dari Kantor Wapres.

“Bagi kami, setiap ruang dialog dengan pemerintah adalah kesempatan berharga. 

Suara tulus para mitra adalah fondasi solusi bersama,” kata Direktur Public Affairs GoTo, Ade Mulya.

Meski klarifikasi itu disampaikan, publik tetap meragukan apakah para pengemudi yang dihadirkan benar-benar mewakili kondisi lapangan. Faktanya, asosiasi resmi menolak, serikat pekerja pun mempertanyakan, sementara aplikator sekadar mengonfirmasi status keanggotaan.

Pertemuan Gibran dengan ojol bukannya meredam gejolak, justru mempertebal krisis kepercayaan.

Dua asosiasi besar menolak mengakui representasi para driver yang hadir, sedangkan aplikator terkesan hanya menjaga citra. 

Di tengah tragedi Affan Kurniawan dan demonstrasi yang terus berkobar, langkah Gibran menghadirkan “ojol kinclong” di Istana lebih banyak menimbulkan tanda tanya daripada jawaban.

Visited 2 times, 1 visit(s) today