Jadi ingat lagu Jawa bertajuk ‘Ojo Dibandingke’, kondang lewat penyanyi cilik Farel Prayoga, ternyata selaras dengan perasaan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Dia ogah dibandingkan dengan Sri Mulyani.
Hari-hari ini, banyak kalangan membahas gaya pengelolaan anggaran Purbaya dengan pendahulunya, Sri Mulyani. Terutama setelah Purbaya memutuskan ntuk menarik dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) di Bank Indonesia (BI) sebesar Rp200 triliun untuk menggerakkan sektor riil.
Dana tersebut dipindahkan ke 5 bank pelat merah agar disalurkan sebagai kredit untuk sektor riil. Dengan cara ini, Purbaya meyakini bakal berdampak positif terhadap pergerakan ekonomi.
Bahkan ada yang menganalogikan permainan sepak bola, gaya Purbaya adalah menyerang, sementara Sri Mulyani lebih kepada bertahan alias main aman. “Saya enggak tahu, hanya yang saya tahu cara menjalankan kebijakan fiskal yang baik. Saya juga enggak pernah main bola. Enggak jago,” kata Purbaya di Jakarta, dikutip Rabu (17/9/2025).
Terkait gaya pengelolaan anggaran, Purbaya mengaku tidak ada yang istimewa. Semuanya dilakukan sesuai ilmu fiskal yang dasar. Di mana, pemerintah wajib hukumnya menyusun anggaran yang terukur.
Dan, anggaran yang sudah disetujui harus dihabiskan. “Kalau enggak berani, enggak habisin, jangan desain. Jangan rencanakan. Kan itu saja,” ujarnya.
Sebelumnya, ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Sekar Utami Setiastuti mencoba membandingkan gaya kepemimpinan Purbaya dengan Sri Mulyani.
Di mana, pengelolaan keuangan negara ala Sri Mulyani lebih ke arah stance konservatif. Pandangannya mengarah kepada pelestarian nilai-nilai, tradisi dan kebiasaan yang ada. Agak alergi dengan perubahan sosial yang drastis, dan cenderung mendukung otoritas tradisional serta tatanan sosial yang sudah mapan.
Menurut Sekar, gaya Sri Mulyani ini tidak sepenuhnya buruk. Lantaran Sri Mulyani lebih berhati-hati mengelola keuangan negara, agar tidak terjadi defisit dan inflasi yang berlebih.
“Sri Mulyani mengambil sikap hati-hati dalam pengelolaan keuangan negara, karena kondisi global saat ini, masih tidak menentu,” ungkapnya.
Sementara gaya Purbaya, menurut Sekar, jauh lebih ekspresif. Misalnya, penarikan dana SAL pemerintah di BI sebesar Rp200 triliun untuk mempercepat perputaran ekonomi.
“Hal ini harus dilakukan hati-hati. Sebab apabila tidak akan menimbulkan inflasi yang tidak terkendali,” kata Sekar.














