Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby menyebutkan dalam survei yang dilakukan pada Juni 2025, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Kabinet Merah Putih (KMP) hanya di angka 65,8 persen.
“Artinya publik menilai kinerja kabinet biasa-biasa saja, sehingga reshuffle kabinet harusnya tak hanya untuk melakukan reposisi atau konsolidasi kekuasaan. Namun juga meningkatkan performa kabinet dalam menjawab persoalan-persoalan mendasar,” ujar Adjie kepada inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Kamis (18/9/2025).
Menurutnya, pekerjaan rumah (PR) Presiden Prabowo Subianto yang paling mendasar adalah menjawab kegelisahan masyarakat terkait kehidupan ekonomi sehari-hari. Publik merasakan daya beli mereka berkurang akibat inflasi dan stagnansi pendapatan serta sulitnya lapangan kerja.
“Sehingga penting presiden mengevaluasi kinerja menteri-menteri yang bertanggung jawab dan ekonomi makro dan mikro, serta lapangan kerja. Jadi bukan hanya menteri keuangan,” terangnya.
Harusnya, sambung dia, Presiden Prabowo sudah tak lagi menempatkan pertimbangan politik sebagai pertimbangan utama, tapi lebih ke performance correction menteri-menterinya. “Karena legitimasi Prabowo-Gibran sudah powerfull,” tambah dia.
Ia mengingatkan, bayangkan saja Prabowo-Gibran memiliki 58 persen pemilih dan koalisi partai politik di parlemen sudah 70 persen dari total kursi DPR.
Oleh karena itu, Adjie menyatakan sudah saatnya bagi Presiden Prabowo lebih fokus pada peningkatan performa kabinet.
“Karena masa honeymoon presiden baru hanya maksimal satu tahun. Jika lebih dari setahun, kinerja pemerintahan belum dirasakan masyarakat, maka bukan lagi kabinetnya yang disalahkan, presiden yang akan menjadi sasaran ketidakpuasan,” tutur Adjie.











