Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, berbincang santai dengan sejumlah jurnalis saat acara silaturahmi media di Kemenpora, Jakarta. (Foto: Instagram/@Erickthohir)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di tengah derasnya kritik terhadap kinerja PSSI usai kegagalan Timnas Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026, Ketua Umum PSSI yang juga Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, kembali menjadi sorotan.
Bukan soal strategi tim nasional atau kebijakan federasi, tetapi gaya komunikasinya saat mengumpulkan awak media yang disebut disertai aturan ketat, hingga ponsel wartawan disita.
Kabar itu mencuat setelah anggota DPR RI sekaligus penasihat klub Semen Padang, Andre Rosiade, menyampaikan keheranannya dalam acara Free Kick Discussion di sela Media Cup 2025 di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Andre mempertanyakan alasan Erick Thohir belum juga memimpin rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI pasca kegagalan tim nasional, padahal sejumlah anggota Exco sudah meminta dilakukan evaluasi resmi.
“Makanya saya bingung terus. Kenapa sampai sekarang, 28 Oktober, sudah 17 hari setelah kita gagal di kualifikasi Piala Dunia, kok Pak Erick tidak pernah memimpin rapat Exco? Ada apa? Kenapa evaluasi ini diulur-ulur?” kata Andre.
Andre juga menyindir sikap Erick yang dinilai masih sempat menghadiri kegiatan lain di luar urusan PSSI, termasuk pertemuan dengan pimpinan redaksi dan jurnalis yang berlangsung tertutup. Dalam forum itu, menurut Andre, ponsel wartawan dikabarkan disita sebelum acara dimulai.
“Konferensi pers bisa, kenapa rapat Exco gak bisa? Setelah itu Pemred diajak diskusi, ‘kan wartawan dikumpulin juga. Yang handphone kalian disita itu. Iya kan? Kumpulkan wartawan bisa, meskipun wartawan handphone-nya disita,” ujar Andre disambut riuh peserta diskusi.
Pernyataan tersebut langsung memantik reaksi publik. Di tengah gelombang desakan agar PSSI segera melakukan pembenahan, gaya komunikasi Erick Thohir justru dinilai mencerminkan sikap tertutup. Banyak kalangan menilai, alih-alih memperbaiki transparansi, tindakan itu memperkuat kesan bahwa PSSI justru ingin mengontrol arus informasi di tengah situasi kritis.
Namun, Erick Thohir sendiri memberikan konteks berbeda lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, @erickthohir, usai acara tersebut. Ia menegaskan bahwa pertemuan itu bersifat informal dan bertujuan mempererat hubungan antara Menpora dan media yang sehari-hari meliput kegiatan kementerian.
“Berkenalan dan diskusi dengan teman-teman media yang sering ngepos di Kemenpora. Saya mendengarkan masukan dan saling tukar pikiran tentang keseharian mereka selama di Kemenpora,” tulis Erick di Instagram.
“Kita punya tujuan yang sama ingin membangun pemuda-pemudi dan olahraga Indonesia. Sebagai keluarga besar, kita harus saling percaya dan mendukung satu sama lain,” sambungnya.
Unggahan itu menunjukkan bahwa Erick ingin menciptakan suasana komunikasi yang lebih personal dengan wartawan, meski gaya pelaksanaannya menuai reaksi beragam.
Sumber inilah.com di kalangan media olahraga membenarkan bahwa pertemuan yang dimaksud berlangsung dengan protokol ketat. Para jurnalis diminta menyerahkan ponsel selama diskusi berlangsung. Meski disebut sebagai langkah menjaga kerahasiaan materi pembicaraan, kebijakan tersebut dianggap tidak lazim dalam forum antara pejabat publik dan media.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, pihak PSSI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga belum memberikan keterangan resmi terkait pertemuan tersebut maupun alasan belum digelarnya rapat Exco.
Sejak Indonesia tersingkir dari babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, publik menagih langkah konkret federasi.
Pemecatan Patrick Kluivert sebagai pelatih kepala dianggap belum cukup menjawab kekecewaan, karena permasalahan dianggap lebih struktural — mulai dari pembinaan hingga tata kelola.
Kini, sikap dan gaya Erick Thohir dalam menangani komunikasi publik menjadi bagian dari sorotan yang lebih besar.
Di saat suporter menuntut kejelasan arah reformasi PSSI, tindakan seperti menyita ponsel wartawan justru menambah daftar pertanyaan soal sejauh mana keterbukaan federasi sepak bola nasional di era baru kepemimpinan “Etho”.













