Pengamat Ingatkan Rupiah Berpeluang Mendekati Rp17.000/US$, BI Bilang Masih Aman

Pengamat Ingatkan Rupiah Berpeluang Mendekati Rp17.000/US$, BI Bilang Masih Aman

Iwan Medium.jpeg

Rabu, 14 Januari 2026 – 20:17 WIB

Nilai tukar rupiah anjlok 0,11 persen ke Rp16.636 per dolar AS pada penutupan Kamis (30/10/2025) sebagai sentimen dari pemangkasan suku bunga The Fed dan prospek kebijakan moneter longgar BI. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Nilai tukar rupiah anjlok 0,11 persen ke Rp16.636 per dolar AS pada penutupan Kamis (30/10/2025) sebagai sentimen dari pemangkasan suku bunga The Fed dan prospek kebijakan moneter longgar BI. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) ditutup melemah 5 poin ke level Rp16.865/US$, ketimbang Selasa (13/1) yang bertengger di level Rp16.860/US$. Semakin merapat ke level psikologis Rp17.000/US$.

Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan, nilai tukar mata uang Garuda bakal bertengger di zona merah pada Kamis (15/1/2026). “Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang  Rp16.860-Rp16.890 per dolar AS,” ungkap Direktur PT Traze Andalan Futures itu.

Ibrahim menjelaskan, prospek rupiah dihantui sejumlah sentimen politik dan ekonomi global. Khususnya perkembangan di Amerika Serikat. Di mana, indeks harga konsumen atau core CPI yang merupakan indikator inflasi di AS, mengalami kenaikan  0,2 persen pada Desember 2025 dan 2,6 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Pelaku pasar memperkirakan, bank sentral AS atau The Fed bakan menurunkan suku bunganya (Fed Fund Rate/FFR) sebanyak 2 kali di sepanjang 2026. Kondisi ini membuat rupiah semakin rentan mengalami pelemahan. Disusul dinamika global, yakni demo besar-besaran di Iran yang meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah (Timteng).

Dinamika politik di Iran, diperkirakan memicu respons Presiden AS Donald Trump untuk memberikan peringatan keras lewat aksi militernya. Tak hanya itu, pemerintah AS bisa saja menetapkan tarif 25 persen kepada negara-negara yang menjalin bisnis dengan Iran.

Ibrahim menerangkan, rupiah berpotensi melemah karena sentimen terkait independensi Bank Sentral AS yang muai goyang setelah pemerintahan Trump mengancam bakal menyelidiki kasus Ketua The Fed, Jerome Powell.

“Perkembangan ini membuat investor gelisah, para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar dunia. secara terbuka mendukung Powell. Ini pesan penting untuk AS agar menjaga otonomi bank sentral dari tekanan politik,” kata Ibrahim.

Di sisi lain, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin G Hutapea mengatakan, BI konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

Pergerakan mata uang dunia di awal 2026, lanjutnya, termasuk rupiah, banyak dipengaruhi meningkatnya tekanan terhadap pasar keuangan dunia.

“Tekanan bersumber dari eskalasi tensi geopolitik. Misalnya, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Selain itu, kebutuhan valuta asing domestik memang meningkat di awal tahun,” terang Erwin.

Erwin menegaskan, stabilitas nilai tukar rupiah pada saat ini, masih tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi BI yang terus dilakukan secara berkesinambungan. Baik melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Selain itu, kata Erwin, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026, mendukung terkendalinya stabilitas rupiah.

Perkembangan ini, menurutnya, masih sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.

“Ketahanan eksternal tetap baik, tercermin dari cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025, tercatat 156,5 miliar dolar AS. Atau setara 6,4 bulan impor. Masih sangat memadai untuk buffer saat menghadapi tekanan besar di pasar keuangan global,” pungkasnya.

Visited 6 times, 1 visit(s) today