Antara Benci dan Butuh: Mengapa Dunia Tetap ‘Mengekor’ di Bawah Bayang-Bayang Trump?

Antara Benci dan Butuh: Mengapa Dunia Tetap ‘Mengekor’ di Bawah Bayang-Bayang Trump?

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 29 Januari 2026 – 22:33 WIB

Meski dicap arogan dan berbahaya oleh survei global, banyak kepala negara tetap merapat ke Donald Trump. (Foto: Wired)

Meski dicap arogan dan berbahaya oleh survei global, banyak kepala negara tetap merapat ke Donald Trump. (Foto: Wired)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sosok Donald Trump tetap menjadi paradoks terbesar dalam geopolitik modern. Di satu sisi, ia dicap arogan dan berbahaya; namun di sisi lain, para pemimpin dunia —termasuk Indonesia— justru semakin merapat ke Washington. 

Mengapa sosok yang begitu kontroversial tetap menjadi magnet bagi banyak kepala negara?

Sentimen Global: Arogan Namun Kuat

Hasil survei terbaru dari Pew Research Centre yang melibatkan 24 negara memberikan gambaran yang cukup kontradiktif. Mayoritas responden di 19 negara menyatakan ketidakpercayaan mereka terhadap kepemimpinan Trump dalam urusan dunia.

Publik secara umum mendeskripsikan Trump sebagai figur yang ‘arogan’ dan ‘berbahaya’. Bahkan, kejujurannya diragukan oleh sebagian besar audiens global. Namun, ada satu poin yang tak terbantahkan: mayoritas responden di 18 negara mengakui Trump sebagai pemimpin yang sangat kuat.

Di Eropa dan Amerika Utara, peringkat Amerika Serikat merosot tajam. Meksiko, Swedia, Polandia, hingga Kanada mencatat penurunan kepercayaan hingga 20 poin persentase. Warga di Jerman, Prancis, dan Turki bahkan terang-terangan menyatakan tidak percaya pada gaya diplomasi ‘koboi’ ala Trump.

Alasan di Balik Sikap ‘Merapat’

Jika sentimen publik begitu negatif, mengapa banyak negara tetap mengekor? Jawabannya klasik: Ekonomi dan Keamanan.

Indonesia dan belasan negara lainnya baru-baru ini terlibat dalam Dewan Perdamaian Gaza yang digagas Trump. Meski ditolak mentah-mentah oleh sebagian Eropa, piagam dewan ini telah ditandatangani oleh 19 negara. 

Fakta ini membuktikan bahwa dalam politik luar negeri, kepentingan nasional jauh lebih berat ketimbang sekadar rasa suka atau tidak suka.

Tareq Masoud, Profesor dari John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard, memberikan analisis tajam. Menurutnya, AS tetaplah ‘Negara yang Tidak Terpisahkan’ (The Indispensable Nation).

“Kehidupan orang-orang di seluruh dunia sangat terpengaruh oleh apa yang terjadi di Washington. Pilihannya hanya dua: tetap bersama AS, atau menyerahkan dunia pada pengaruh China dan pihak lain yang mencoba menggantikan peran Amerika,” ungkap Masoud.

Faktor Ketidakpastian dan Peluang

Gaya kepemimpinan Trump yang tidak konvensional justru dipandang sebagai peluang oleh sebagian pihak. Mereka berharap karakter Trump yang sulit ditebak mampu memutus kebuntuan konflik lama, seperti perang Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas, melalui pendekatan yang lebih transaksional dan cepat.

Selain itu, dominasi ekonomi serta keunggulan teknologi AS masih menjadi ‘obat penawar’ bagi ketidakstabilan global. Bagi banyak pemimpin dunia, merapat ke Trump bukan berarti setuju dengan karakternya, melainkan sebuah strategi pragmatis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan dalam negeri dari ancaman ketidakpastian global.

Visited 9 times, 1 visit(s) today