Menteri Bahlil Pastikan Stok Energi Aman, Diversifikasi Impor Disiapkan

Menteri Bahlil Pastikan Stok Energi Aman, Diversifikasi Impor Disiapkan

Vonita Medium.jpeg

Rabu, 4 Maret 2026 – 21:45 WIB

  Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Istana Presiden, Jakarta, Rabu (4/3/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Istana Presiden, Jakarta, Rabu (4/3/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap kondisi pasokan energi yang menjadi dampak konflik global antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ia memastikan hingga saat ini pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman.

“Kalau sampai dengan sekarang belum terganggu. Tapi ke depan kan pasti kalau perangnya lama pasti akan berdampak. Itu sudah pasti. Sampai dengan 1-2 bulan ke depan, Insha Allah kita masih clear. Insha Allah, tidak ada masalah,” kata Menteri Bahlil kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).

Dia menyatakan, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi gangguan pada jalur pasokan energi global. Salah satunya dengan melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah.

“Jadi kalau menyangkut LPG enggak ada masalah. Jadi relative clearlah. Kalau menyangkut BBM yang kita impor kan tinggal bensin. Dan itu kita belinya di Asia Tenggara, tidak ada di middle east. Jadi relatif, Insha Allah, clear,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Bahlil menyebut cadangan BBM di Indonesia, tersisa untuk 21 hari, diragukan kebenarannya. Bisa saja kurang dari 21 hari, BBM sudah mengalami kelangkaan.

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi meragukan pernyataan Menteri Bahlil tentang cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional tersisa 20 hari. Diyakini, BBM menjadi lebih cepat habis karena tingginya mobilitas masyarakat saat libur panjang menjelang Lebaran.  

“Praktis permintaan BBM semakin tinggi. Sehingga negara harus mengeluarkan cadangan BBM. Untuk menghindari antrean di Stasiun Pengisian BBM Umum disingkat SPBU. Kalau tidak dikeluarkan, malah bahaya. Antrean panjang (SPBU) bisa mengarah gejolak sosial,” kata Fahmy, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Dampak serangan biadab zionis Israel dengan Amerika Serikat (AS) ke Iran yang memicu konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, menurut Fahmy, menjadi musibah bagi perekonomian Indonesia. Karena menciptakan kenaikan harga minyak mentah dan BBM yang cukup signifikan.

“Dampaknya lebih kepada APBN, karena kita kan importir minyak mentah dan BBM. Kalau soal pasokan, enggak perlu khawatir. Indonesia bisa beli dari Singapura yang stoknya cukup banyak. Atau dari Rusia. Menteri Bahlil bahkan bilang mau beli dari AS,” ungkap mantan anggota Tim Reformasi tata Kelola Migas itu.

Namun, lanjut Fahmy, ketika harga minyak mentah atau crude oil melambung hingga di atas US$100 per barel, menjadi masalah serius bagi pemerintah Indonesia. Karena terkait dengan besaran subsidi energi yang diatur dalam APBN. ketika harga minyak dunia dan BBM naik, maka subsidi energi dipastikan membengkak.

“Masalahnya, saat ini, keuangan negara kan sedang kembang-kempis. Apa rela anggaran MBG atau Kopdes Merah Putih, dipangkas jika harga minyak dunia sampai di atas 100 dolar AS per barel. Saya kira dampak perang Iran harus disikapi serius, mitigasinya. Pak Prabowo enggak perlu sampai ke Teheran, fokus saja di Indonesia. Ini berat lho,” tandasnya.

Visited 8 times, 1 visit(s) today