Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti. (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A/tom).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mencatat adanya kenaikan signifikan belanja pemerintah pada triwulan I-2026, yakni sebesar 21,81 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Menurut Esther, realisasi belanja pemerintah pada periode tersebut mencapai Rp815 triliun. Kondisi ini dinilai turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menembus 5,61 persen pada kuartal I-2026. Hal tersebut menunjukkan peran besar kebijakan fiskal dalam menopang perekonomian nasional.
“Belanja pemerintah yang bersifat ekspansif umumnya bertujuan baik, yaitu meningkatkan permintaan agregat, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong kenaikan produk domestik bruto (PDB) riil,” kata Esther di Jakarta, Kamis (14/5/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Salah satu pendorong utama adalah belanja pemerintah yang tumbuh 21,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pengeluaran pemerintah yang lebih besar atau ekspansif umumnya bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan agregat, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan PDB riil. Jika disalurkan tepat sasaran, ini dapat mempercepat pembangunan, namun jika berlebihan dapat menyebabkan defisit anggaran,” ujar Esther.
Ia menambahkan, pemerintah perlu memaksimalkan efek pengganda (multiplier effect) dari belanja negara, dengan memastikan anggaran yang bersumber dari pajak masyarakat dan penerbitan utang dapat diarahkan untuk investasi berkelanjutan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan sektor produktif.
Terkait prospek ke depan, Esther menilai belanja pemerintah masih berpotensi menjadi pendorong ekonomi, namun tidak bersifat jangka panjang.
Sebelumnya, BPS menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). “Kalau kita perhatikan di triwulan I-2026 ini 5,61 persen, itu adalah pertumbuhan tertinggi,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Secara historis, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I dalam lima tahun terakhir sempat terkontraksi pada 2021 sebesar minus 0,69 persen.
Ia menjelaskan kinerja konsumsi rumah tangga didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur nasional dan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri.
Selain itu, berbagai kebijakan pengendalian inflasi serta stimulus pemerintah turut menopang konsumsi, antara lain diskon tiket transportasi, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) atau gaji ke-14, serta suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) yang berada di level 4,75 persen.
Selain konsumsi rumah tangga, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen, didorong oleh investasi pemerintah pada proyek prioritas nasional serta investasi swasta.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh signifikan sebesar 21,81 persen, seiring meningkatnya realisasi belanja pegawai melalui pembayaran THR serta belanja barang dan jasa, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














