Cerita Pasien Lansia Kronis Pontang-panting Tengah Malam Gara-gara BPJS Nonaktif

Cerita Pasien Lansia Kronis Pontang-panting Tengah Malam Gara-gara BPJS Nonaktif

Rizki_Medium_5f1c12da40.avif

Jumat, 13 Februari 2026 – 17:53 WIB

RSUD Matraman tempat Samiah (72) dirujuk ketika BPJS PBI miliknya mendadak nonaktif. (Foto: Inilah.com/Rizki).

RSUD Matraman tempat Samiah (72) dirujuk ketika BPJS PBI miliknya mendadak nonaktif. (Foto: Inilah.com/Rizki).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Jam sudah lewat tengah malam di RSCM. Lorong tak lagi seramai siang, tapi Samiah (72) masih duduk menunggu. Ia datang untuk mengambil obat rutinnya. Bukan untuk pertama kali. Namun malam itu berbeda, status BPJS PBI miliknya mendadak nonaktif.

Ia baru tahu setelah cukup lama mengantre. Tak ada pemberitahuan sebelumnya, hanya keterangan singkat, kepesertaan tidak aktif. Penonaktifan BPJS PBI usai validasi data Kementerian Sosial memang sempat ramai dikeluhkan. Di meja administrasi, itu urusan data. Di bangku tunggu, itu soal hidup yang harus terus berjalan.

Samiah memilih tidak pulang, bertahan sampai sekitar pukul 04.00 pagi. Ketika tak juga ada kepastian, ia meluncur ke kantor BPJS di Diponegoro untuk melapor dan meminta kejelasan haknya.

“Akhirnya saya ke kantor BPJS di Diponegoro, langsung lapor kenapa saya tidak dapat obat. Setelah itu baru disuruh ambil lagi ke Cipto dan langsung dapat. Memang harus kita bicarakan begitu,” ujarnya kepada Inilah.com, Jumat (13/2/2026).

Proses rujukan BPJS-nya cukup panjang. Dari Puskesmas Utan Kayu, ia harus menuju RSUD Matraman lebih dulu sebelum dirujuk ke RSCM. Ia tidak bisa langsung datang ke rumah sakit rujukan utama tersebut

Samiah sudah puluhan tahun bergantung pada BPJS. Ia memiliki riwayat gangguan saraf, keluhan ortopedi di kaki, pernah operasi mata, dan tindakan medis lain. Biayanya tak kecil.

“Obat bagian dalam saja bisa sampai Rp3 juta. Kalau semuanya mungkin sekitar Rp8 juta. Uangnya dari mana? Kita enggak punya. Jadi ya dijalani saja terus,” katanya.

Tanpa jaminan kesehatan, ia tak sanggup membayar sendiri. Bebannya bertambah karena dua anaknya juga sakit. Dedek Sutrisno (43) mengidap epilepsi dan rutin berobat ke poli Saraf, Hepatologi, serta THT. Tri Widodo (45) mengalami gangguan jiwa dan harus rutin minum obat penenang. Pernah ia hilang beberapa hari ketika tak minum obat.

“Dua orang yang sakit. MasyaAllah, dua. Saya sudah pasrah saja,” ujarnya lirih.

“Kalau enggak berusaha bagaimana? Memang umur di tangan Allah, tapi kita tetap harus berusaha,” tuturnya lagi.

Di RSUD Matraman, pihak rumah sakit memastikan pasien BPJS PBI nonaktif tetap dilayani. Humas RSUD Matraman, Intan Nabila, mengatakan belum ada pasien yang ditolak.

“Sejauh ini enggak ada. Di Jakarta ada kemudahan. Kalau memang pasien BPJS PBI dan benar tidak mampu, bisa dibantu pengurusan BPJS-nya,” kata Intan saat ditemui di RSUD Matraman.

Jika ditemukan status nonaktif, pasien diarahkan untuk mengaktifkan kembali melalui Puskesmas hingga divalidasi Dinas Sosial.

“Kalau ada pasien PBI ke sini dan BPJS-nya nonaktif, kami edukasi bahwa itu bisa diaktifkan kembali lewat Puskesmas. Kami beri tahu syaratnya, nanti dibantu Puskesmas dan divalidasi lagi oleh Dinas Sosial. Setelah itu BPJS-nya ditanggung Pemprov DKI,” ujarnya.

Ia menegaskan pelayanan tetap diberikan, termasuk bagi pasien kronis.

“Tetap dilayani,” ucapnya.

Meski begitu, pasien tetap didorong segera mengaktifkan kembali status kepesertaan agar administrasi tertib.

“Biasanya kami arahkan ke Puskesmas supaya diaktifkan dulu,” katanya.

Terkait jumlah pasien PBI nonaktif, Intan mengaku belum memiliki data pasti.

“Untuk angkanya saya belum tahu, harus cek dulu,” ujarnya.

Sebagai rumah sakit tipe D, mayoritas pasien RSUD Matraman adalah warga sekitar, banyak di antaranya lansia. Poli Penyakit Dalam, Paru, dan Saraf paling sering dipadati.
 

Visited 14 times, 1 visit(s) today