Ironi Sinyal 3T: Internet Sudah Masuk, Tapi Harus Rebutan Bandwidth

Ironi Sinyal 3T: Internet Sudah Masuk, Tapi Harus Rebutan Bandwidth

Ibnu Medium.jpeg

Rabu, 12 Agustus 2026 – 19:38 WIB

Suasana talkshow BAKTI Media Connect 2026 bertema “Memeratakan Akses Informasi ke Penjuru Negeri” di Jakarta, Rabu (12/8/2026).  (Foto: inilah.com/Inu)

Suasana talkshow BAKTI Media Connect 2026 bertema “Memeratakan Akses Informasi ke Penjuru Negeri” di Jakarta, Rabu (12/8/2026). (Foto: inilah.com/Inu)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Di SMAN 1 Titehena, Flores Timur, hari asesmen adalah ujian ganda. Sekitar 450 siswa membuka soal digital secara bersamaan, ditambah 50 guru dan pengawas yang ikut mengakses jaringan. Sinyal sudah ada — sesuatu yang dulu mustahil — tetapi kini muncul persoalan baru: kapasitas.

“Saya datang dengan harapan besar supaya ada peningkatan kapasitasnya,” kata Kepala SMAN 1 Titehena Konradus Kudarto dalam agenda BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Cerita itu menggambarkan babak baru transformasi digital di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Setelah internet masuk, tantangannya bergeser dari sekadar “ada sinyal” menjadi “cukup cepat untuk belajar”.

Mengapa sekolah jadi sasaran utama internet 3T?

Sektor pendidikan menjadi tulang punggung program konektivitas Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Direktur Utama BAKTI Komdigi Fadhilah Mathar mengatakan lembaganya telah membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi.

“BAKTI telah membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi. Sekitar 68% berada di sektor pendidikan, kemudian sektor kesehatan sebesar 5,89% untuk mendukung e-government,” ujar perempuan yang akrab disapa Indah itu.

Sisanya, sekitar 19,9% lokasi, merupakan kantor pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat, mulai dari pasar tradisional, tempat ibadah, pos pertahanan, hingga fasilitas transportasi publik. Bagi Fadhilah, keberhasilan program tidak diukur dari jumlah infrastruktur, melainkan dari seberapa besar manfaatnya dipakai warga.

Dari administrasi hingga asesmen berbasis digital

Di banyak sekolah 3T, aktivitas belajar telah beralih ke sistem digital — mulai dari administrasi hingga pelaksanaan ujian. Akses internet BAKTI di Flores Timur, misalnya, dimanfaatkan untuk memodernisasi sekolah sekaligus mendukung layanan kesehatan melalui optimalisasi rujukan medis puskesmas.

Namun lonjakan pemakaian serentak, seperti saat asesmen, menuntut bandwidth yang lebih besar. Kebutuhan sekolah kini bukan lagi soal tersedianya jaringan, melainkan kapasitas yang mampu menampung ratusan pengguna dalam satu waktu.

Infrastruktur yang menopang sekolah pelosok

Untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses jaringan komersial, BAKTI mengandalkan beberapa aset strategis. Satelit Republik Indonesia (Satria-1) berkapasitas 150 Gbps menyediakan akses bagi sekolah, puskesmas, kantor pemerintah daerah, hingga pos perbatasan TNI/Polri.

Di darat dan laut, jaringan serat optik Palapa Ring membentang sekitar 12.148 kilometer dan melayani 131 titik Network Operation Center (NOC) di 57 kabupaten/kota. Konektivitas diperkuat program BAKTI AKSI dengan internet gratis di lebih dari 31.864 titik layanan publik, serta BAKTI SINYAL yang membangun BTS 4G dan BTS Universal Service Obligation (USO) di 6.747 titik lokasi 3T.

Bagi sekolah seperti SMAN 1 Titehena, infrastruktur itu telah membuka pintu. Pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan pintu itu cukup lebar untuk dilewati semua siswa sekaligus.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 1 times, 1 visit(s) today