Telkomsel Buka Strategi Jaga Internet di Wilayah 3T, Ini Peran BAKTI dan Operator

Telkomsel Buka Strategi Jaga Internet di Wilayah 3T, Ini Peran BAKTI dan Operator

Pemerataan akses internet di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) tidak berhenti pada pembangunan Base Transceiver Station (BTS). 

Setelah infrastruktur berdiri, diperlukan pembagian peran antara pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta operator seluler untuk memastikan jaringan tetap dapat digunakan masyarakat.

Vice President Network Strategic Collaboration and Settlement Telkomsel Deni Kurniawan mengatakan, Telkomsel bekerja sama dengan BAKTI dalam mengoptimalkan layanan konektivitas di wilayah 3T. Skema tersebut membuat peran BAKTI dan operator memiliki porsi berbeda dalam menjaga jaringan.

“Setelah adanya BAKTI, jadi kita melakukan kerja sama. Kebetulan kami memang mayoritas memenangkan tender untuk pelayanan ini, karena kita pilih bahwa kita mesti ada untuk Indonesia,” ujar Deni dalam BAKTI Media Connect 2026, Rabu (12/8/2026).

Menurut Deni, model penyediaan jaringan di wilayah 3T berbeda dengan skema jaringan komersial yang biasa dijalankan operator.

Dalam skema BAKTI, infrastruktur dasar seperti BTS, perangkat, power, hingga operasional berada dalam lingkup pengelolaan BAKTI. Sementara Telkomsel berperan menghubungkan infrastruktur tersebut ke jaringan operator agar dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Dari mulai power-nya, operasionalnya, perangkatnya sampai BTS-nya itu menjadi BAKTI,” katanya.

Telkomsel Hubungkan BTS BAKTI ke Jaringan Operator

Deni menjelaskan, salah satu peran Telkomsel adalah menyediakan titik agregasi atau penghubung dari infrastruktur BAKTI menuju jaringan Telkomsel.

Dengan skema tersebut, BTS yang dibangun di wilayah 3T tidak berdiri sendiri. Infrastruktur tersebut perlu dihubungkan dengan jaringan yang lebih luas agar masyarakat dapat menggunakan layanan komunikasi dan internet.

“Peran kami di sini lebih kepada sisi agregasi BAKTI. Kami punya titik-titik point of interest, titik agregasi, dari seluruh BAKTI ini terkoneksi di sini,” jelasnya.

Model kerja sama tersebut juga membutuhkan koordinasi antara BAKTI dan operator ketika terjadi kendala di lapangan.

Deni mengatakan, tim BAKTI memiliki personel yang berada di lapangan sehingga ketika terjadi gangguan pada infrastruktur, informasi dan penanganannya perlu dikoordinasikan antara kedua pihak.

“Kalau ada gangguan segala macam, kita akan sampaikan ke BAKTI, karena tim BAKTI ada di lapangan sebenarnya,” ujarnya.

Tantangan Menjaga Konektivitas di Wilayah 3T

Pembangunan jaringan di wilayah 3T memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan wilayah perkotaan. Kondisi geografis, kepadatan penduduk, hingga keterbatasan infrastruktur pendukung membuat pengelolaan konektivitas membutuhkan model kolaborasi yang berbeda.

Dalam kegiatan tersebut, Deni juga menegaskan posisi Telkomsel sebagai perusahaan komersial yang tetap memiliki pertimbangan bisnis dalam mengembangkan jaringan. Namun, perusahaan juga melihat kebutuhan konektivitas sebagai bagian dari upaya membuka akses digital bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

Telkomsel, kata Deni, tetap akan melihat sejumlah pertimbangan untuk menentukan pengembangan jaringan dan kapasitas di wilayah tersebut.

“Kami juga berharap dengan saat ini kami memang komersial, jadi keputusan-keputusannya harus melihat dulu. Tapi tentunya, board kami juga melihat betapa pentingnya konektivitas,” tuturnya.

Internet 3T Mulai Digunakan untuk Ekonomi Masyarakat

Kebutuhan menjaga kualitas jaringan semakin penting karena masyarakat di wilayah 3T mulai menggunakan internet bukan hanya untuk komunikasi.

Kepala Desa Bainaa Barat Yuslan sebelumnya mengungkapkan, setelah jaringan tersedia, masyarakat mulai memanfaatkan internet untuk memperoleh informasi, berkomunikasi dengan keluarga, hingga memasarkan produk melalui media sosial.

Desa Bainaa Barat memiliki sekitar 1.415 jiwa dan 417 kepala keluarga. Sebelum memiliki akses internet yang memadai, warga harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan sinyal.

Setelah konektivitas tersedia, pelaku usaha dapat memotret produk, mengunggahnya ke media sosial, dan menjangkau calon pembeli yang lebih luas.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap jaringan tidak berhenti ketika BTS selesai dibangun. Semakin banyak aktivitas digital yang dilakukan masyarakat, semakin besar pula kebutuhan terhadap kapasitas dan kualitas jaringan.

Karena itu, keberhasilan program konektivitas 3T tidak hanya ditentukan oleh jumlah BTS atau titik akses yang dibangun, tetapi juga kemampuan menjaga jaringan tetap berfungsi, meningkatkan kapasitas ketika trafik bertambah, serta memastikan layanan dapat digunakan secara optimal oleh masyarakat.

BAKTI sendiri mencatat pembangunan BTS 4G di wilayah 3T dan perbatasan telah mencapai 6.747 titik lokasi. Selain itu, program BAKTI AKSI disebut telah menyediakan akses internet di lebih dari 31.864 titik layanan publik di seluruh Indonesia.

Dengan skema tersebut, pemerintah melalui BAKTI menyediakan infrastruktur untuk memperluas jangkauan konektivitas, sementara operator seperti Telkomsel berperan menghubungkan dan mengoptimalkan layanan agar masyarakat dapat memanfaatkannya.

Tantangan selanjutnya adalah memastikan kolaborasi tersebut mampu menjaga konektivitas tetap berjalan dalam jangka panjang, terutama ketika penggunaan internet masyarakat di wilayah 3T terus meningkat.

Visited 2 times, 2 visit(s) today