Harga Mobil Listrik Bekas Jeblok, Wuling Air EV Anjlok Sampai 60 Persen

Harga Mobil Listrik Bekas Jeblok, Wuling Air EV Anjlok Sampai 60 Persen


Pasar mobil listrik di Indonesia menghadapi tantangan serius. Data OLXmobbi menunjukkan, depresiasi harga mobil listrik (battery electric vehicle/BEV) jauh lebih curam dibanding mobil konvensional (ICE) maupun hybrid (HEV).

Direktur OLXmobbi Agung Iskandar mengungkapkan, rata-rata depresiasi mobil listrik bekas mencapai 35–60 persen per tahun, sementara ICE dan HEV hanya berkisar 10–15 persen.

“Berdasarkan data internal OLX, harga jual kendaraan listrik bekas turun lebih tajam dibanding ICE dan HEV. Penurunan ini sudah terlihat jelas pada model-model yang diluncurkan tahun 2024,” kata Agung, dikutip Selasa (30/9).

Wuling Air EV Anjlok Paling Dalam

Menurut OLXmobbi, Wuling Air EV mencatat depresiasi tertinggi hingga 60 persen. Model lain yang juga merosot cukup dalam adalah Mercedes EQS (52 persen), Hyundai Ioniq 5 (43 persen), dan BYD Atto 3 (40 persen).

Sebagai perbandingan, BYD Seal hanya turun sekitar 35 persen, menjadikannya model dengan depresiasi terendah.

Contoh nyata terlihat pada Hyundai Ioniq 5 Long Range Signature 2025 yang saat baru dijual Rp925,6 juta. Namun di kanal OLXmobbi, mobil tersebut kini ditawarkan sekitar Rp435 juta.

Faktor Penyebab Depresiasi Tajam

Agung menjelaskan, ada tiga faktor utama penyebab penurunan tajam harga mobil listrik bekas:

  1. Pasokan terbatas – unit BEV bekas masih minim karena penjualan mobil listrik baru di Indonesia baru melonjak dalam setahun terakhir.
  2. Harga baru belum stabil – tren penurunan harga BEV baru secara global ikut memengaruhi harga jual kembali di pasar bekas.
  3. Kredit sulit – perusahaan pembiayaan (multifinance) masih enggan membiayai BEV bekas, sehingga transaksi kredit sulit dilakukan.

Tantangan Serius Pasar EV Nasional

Fenomena depresiasi ini bisa menjadi hambatan bagi akselerasi adopsi mobil listrik di Indonesia. 

Konsumen yang masih ragu pada harga jual kembali akan cenderung menunda pembelian, meski pemerintah terus mendorong elektrifikasi kendaraan untuk mencapai target emisi nol bersih 2060.

Sementara itu, produsen mobil listrik dari China, Jepang, hingga Eropa yang agresif berekspansi di Indonesia dituntut memberikan jaminan nilai jual kembali (resale value) lebih baik, agar konsumen merasa lebih aman berinvestasi pada kendaraan listrik.

Visited 4 times, 1 visit(s) today