Sebanyak 22 tower Hunian Pekerja Konstruksi (HPK) di IKN, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. Ditjen Perumahan Kementerian PUPR).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Sejak awal, banyak kalangan mengingatkan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim), bakal menghadapi masalah besar nan pelik. Susah air bersih.
Selanjutnya, hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi peringatan itu. Setelah dilakukan kajian prediksi ketersediaan air di IKN dan sekitarnya, melalui pendekatan artificial neural network (ANN), hasilnya tak jauh beda.
Dikutip dari laman BRIN, Selasa (23/9/2025), Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laras Toersilowati mengatakan, risetnya menghasilkan akurasi sangat tinggi, mencapai 97,7 persen dengan kappa index 0,96.
Hasil prediksi BRIN menunjukkan, persentase ketersediaan air di IKN dan sekitarnya, adalah air tinggi atau high water (HW) sebesar 0,51 persen, air vegetasi atau vegetation water VW sebesar 20,41 persen, sisanya non air atau non water (NW) sebesar 79,08 persen.
Maksud dari air tinggi adalah kedudukan tertinggi permukaan air laut yang dicapai dalam suatu siklus pasang surut. Sedangkan air vegetasi adalah air yang tersimpan dalam jaringan tumbuhan, terutama pada daun dan batang. Sedangkan daerah yang tingkat non airnya tinggi bisa bermakna sulit air.
“Ketersediaan air di IKN menjadi isu penting. Jika tidak diantisipasi sejak awal, pembangunan besar-besaran di wilayah tersebut dapat berhadapan dengan risiko krisis air,” kata Laras saat memaparkan penelitian terbaru terkait pemanfaatan data satelit dalam menganalisis perubahan iklim perkotaan di Indonesia, dalam acara Ocean Indonesia and Atmosphere Training Workshop di BRIN Bandung, beberapa waktu lalu.
Laras menambahkan, hasil penelitian ini, tidak hanya memiliki nilai akademis, tetapi juga bermanfaat secara praktis bagi perumusan kebijakan.
“Data satelit bukan hanya soal angka atau peta, tetapi juga dasar bagi pemerintah dalam membuat keputusan strategis agar pembangunan kota di Indonesia tetap berkelanjutan,” terangnya.
Seiring meningkatnya ancaman perubahan iklim global, BRIN menegaskan komitmen untuk melanjutkan riset-riset berbasis data satelit dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Dengan begitu, Indonesia dapat mengembangkan sistem peringatan dini, strategi adaptasi, serta kebijakan tata kota yang ramah lingkungan dan tangguh menghadapi perubahan iklim,” tutur Laras.
Untuk diketahui, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer memaparkan hasil penelitian terbaru terkait pemanfaatan data satelit. Kajian ini dilakukan sejak tahun 2022 hingga 2025, dengan fokus pada lima studi kasus.
Sebelumnya, tim peneliti gabungan dari BRIN, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). telah melakukan studi pemodelan untuk menganalisis kekeringan potensial di Kalimantan. Metode yang dilakukan menggunakan indeks kekeringan efektif dalam kondisi iklim global yang menghangat.
Hasilnya, Kalimantan Timur (Kaltim) sangat rentan terhadap beragam kriteria kekeringan. Levelnya tak main-main mulai parah sampai ekstrem, baik di musim klimatologi (2002-2022), maupun masa depan yang dekat atau near-future (2023-2033).
“Fakta-fakta ilmiah mengenai potensi kekeringan di Kalimantan Timur saat ini dan masa depan ini sedang proses telaah di jurnal internasional. Lengkapnya tunggu terbit versi preprint,” kata Ketua Tim Peneliti Erma Yulihastin, dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN.
Erma mengatakan, jika Kaltim tak segera disiapkan mitigasi terbaik jangka panjang, kota-kota seperti Balikpapan, Samarinda, dan IKN. Menghadapi persoalan yang memburuk tentang risiko kekeringan.
Berdasarkan proyeksi Land Use Land Cover (LULC) mengindikasikan peningkatan perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi perkebunan sebesar 2,1 persen di Kalimantan Timur dari 2023 sampai 2033. “Tren ini meng-highlight lanskap Kalimantan Timur yang berubah pada near-future, menggarisbawahi kebutuhan untuk upaya-upaya mitigasi,” kata Erma.














