Indeks Asia Dominan Menguat, IHSG Malah Ambruk ke 7.106,52

Indeks Asia Dominan Menguat, IHSG Malah Ambruk ke 7.106,52

Iwan Medium.jpeg

Senin, 27 April 2026 – 23:01 WIB

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Tak berbeda dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$) yang masih “leyeh-leyeh” di atas Rp17.000/US$, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melemah 0,32 persen ke level 7.106,52 dibandingkan penutupan Jumat (24/4).

Pada perdagangan Senin (27/4/2026), IHSG sempat bergerak di zona hijau, namun berbalik arah dan ditutup turun 22,97 poin. Nasib serupa dialami indeks saham unggulan atau blue chip LQ45 yang terkoreksi ke level 686,74.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan tekanan jual yang terjadi pada akhir pekan lalu berlanjut hingga awal pekan ini.

“Setelah mengalami tekanan jual pada akhir pekan lalu, IHSG sempat bergerak di teritori positif hampir di sepanjang perdagangan, namun kemudian IHSG melemah menjelang penutupan,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Dari sisi domestik, kata dia, sempat muncul sentimen positif dari rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang akan memberikan insentif berupa pengurangan pajak untuk mendukung pasar.

Jika benar insentif tersebut direalisasikan, langkah itu sejalan dengan harapan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar ada stimulus fiskal guna menopang pasar modal. Namun, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk mendorong IHSG bertahan di zona hijau.

Indeks Asia Menguat

Masih menurut Ratna, mayoritas indeks saham di Asia justru ditutup menguat pada perdagangan Senin (27/4/2026). Indeks Nikkei 225 dan Kospi bahkan mencatatkan kinerja solid.

Sementara itu, data keuntungan industri di China meningkat 15,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026, membaik dari 15,2 persen pada Februari 2026. Pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan Bank of Japan pada 28 April 2026 yang diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan di level 0,75 persen.

Investor global cenderung mengabaikan belum adanya perundingan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta masih tingginya harga minyak mentah dunia.

Meski demikian, ketidakpastian tetap membayangi pasar seiring dinamika geopolitik. Iran dilaporkan menawarkan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik, serta mengusulkan penundaan pembicaraan terkait program nuklir.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sektor energi mengalami penurunan terdalam sebesar 1,21 persen.

Saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain JAWA, ESIP, IFSH, BOBA, dan SMMT. Sementara itu, saham dengan pelemahan terdalam meliputi HOPE, BABY, KDTN, BRNA, dan ENRG.

Total nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp16,57 triliun dengan volume 33,17 miliar lembar saham, yang diperdagangkan dalam 2,20 juta kali transaksi. Sebanyak 408 saham menguat, 264 saham melemah, dan 147 saham stagnan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 8 times, 1 visit(s) today