Kemendag: Ekspor Kopi Cukup Signifikan, Teh Perlu Optimalisasi

Kemendag: Ekspor Kopi Cukup Signifikan, Teh Perlu Optimalisasi

Diana Medium.jpeg

Selasa, 9 Juni 2026 – 20:03 WIB

Analis Perdagangan Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Perkebunan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Irman Adi Purwanto Moefthi di acara Bewara Jawa Barat (Bejawa) Vol 8 di Pelataran Setda A Gedung Sate, Jawa Barat, Selasa (9/6/2026).(Foto: Inilah.com/Diana).

Analis Perdagangan Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Perkebunan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Irman Adi Purwanto Moefthi di acara Bewara Jawa Barat (Bejawa) Vol 8 di Pelataran Setda A Gedung Sate, Jawa Barat, Selasa (9/6/2026).(Foto: Inilah.com/Diana).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Analis Perdagangan Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Perkebunan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Irman Adi Purwanto Moefthi, menyebut produk kopi, kakao, dan teh memiliki potensi ekspor yang sangat besar.

Hal ini ia ungkapkan dalam kegiatan Bewara Jawa Barat (Bejawa) Vol. 8 di Pelataran Setda A Gedung Sate, Jawa Barat, Selasa (9/6/2026).

“Secara global, memang kalau kita lihat, ekspor produk kopi Indonesia peningkatannya cukup signifikan. Bahkan pada 2025, nilai ekspor kita mencapai 2,5 miliar dolar AS. Meningkat lebih dari 53 persen dibandingkan 2024,” ungkap Irman.

Meski Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia, porsi ekspornya masih berada di peringkat kedelapan. Artinya, peluang ekspor masih terbuka lebar.

“Tentunya ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita agar dapat mengambil pangsa pasar yang lebih luas lagi. Pangsa pasar kopi kita baru sekitar 3,5 persen. Jadi masih perlu ditingkatkan,” tegasnya.

Untuk produk kakao, kata dia, nilai ekspornya lebih besar dibandingkan kopi. Pada 2025, nilainya mencapai lebih dari US$3,5 miliar.

“Untuk produk kakao ini, memang lebih banyak produk hilirisasinya. Karena lebih dari 98 persen produk kakao yang diekspor berupa kakao butter, kakao paste, dan kakao powder. Kebanyakan merupakan produk olahan dibandingkan kopi yang masih banyak diekspor dalam bentuk green bean (biji kopi),” tuturnya.

Meski demikian, ekspor kopi dan kakao masih lebih baik dibandingkan teh. Produk teh masih perlu dioptimalkan pada masa mendatang. Sebab, selama lima tahun terakhir, ekspor teh mengalami penurunan yang cukup signifikan hingga tersisa sekitar 16 persen.

“Ekspor teh pada 2025 secara total nilainya di bawah 50 juta dolar AS. Tentunya ini masih memerlukan upaya yang sangat serius. Jadi, kita bukan hanya mementingkan sisi hilir, tetapi juga harus memperhatikan hulunya. Selain itu, ekosistem value chain perlu mendapat perhatian khusus,” kata Irman.

Selain itu, lanjutnya, Kemendag memiliki sejumlah program andalan untuk menggenjot ekspor, khususnya tiga komoditas tersebut. Misalnya melalui diversifikasi produk, sehingga tidak hanya mengandalkan produk mentah, tetapi juga mendorong inovasi dan terobosan untuk menghasilkan produk bernilai tambah dan berstandar industri.

“Kita butuh penguatan dari perwakilan-perwakilan di luar negeri. Kita memiliki atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di 46 kantor pada 33 negara. Mereka dapat membantu mengoptimalkan promosi produk Indonesia,” jelasnya.

Tak hanya itu, Irman mengatakan Kemendag juga telah melakukan berbagai upaya berupa capacity building, yakni pendampingan untuk memperoleh sertifikasi produk dengan bekerja sama dengan sejumlah lembaga internasional. Salah satunya TFO (Trade Facilitation Office) dari Kanada.

“Penting untuk menjembatani produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar global dan membantu menembus pasar internasional,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 2 visit(s) today