Ilustrasi – Negara-negara Teluk menjadi sekutu Amerika Serikat (AS) serang Iran. (Foto: Generator AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Tulisan ini diilhami oleh ungkapan seorang penulis Qatar yang bernama Mohammed Almisfer, yang mempertanyakan mengapa para pemimpin Arab Teluk tidak mengutuk agresi Zionis Israel terhadap Iran sejak awal. Kemudian saya kaitkan dengan pertanyaan klasik yang masih Up to Date oleh Syakib Arselan.
Saya mencoba untuk netral tanpa membumbui tulisan dengan harga mahal yang dibayar oleh negara-negara Teluk, karena ketidakkonsistenan para pemimpinnya, tidak juga memohon Presiden Prabowo Subianto untuk keluar dari Board of Peace, tidak meminta Majelis Ulama untuk lebih bijak bersikap sehingga tingkat polarisasi sektarian tidak menganggu kebersamaan, tetapi saya ingin memberi catatan dan penghargaan kepada Ketua Umum PBNU yang dalam dinamika ini, beliau secara jelas menyampaikan keberpihakannya kepada Iran.
Pertanyaan klasik dalam wacana reformasi Islam, Limadha ta’akhkhar al-Muslimun wa taqaddama ghayruhum? (Mengapa umat Muslim tertinggal, sementara yang lain maju?), yang pertama kali dikemukakan pada zaman pemikir seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh pada akhir abad ke-19, tetap relevan hingga hari ini.
Frasa ini bukan sekadar retorika filosofis, melainkan diagnosis mendalam terhadap kemunduran dunia Muslim dalam dimensi ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, dan pertahanan, sementara peradaban non-Muslim—khususnya Barat—mengalami kemajuan pesat. Menurut para reformis tersebut, penyebab utama bersifat internal: penyimpangan dari prinsip-prinsip inti Islam (tauhid, ijtihad, ukhuwah Islamiyah, keadilan sosial, dan semangat thalab al-ilm), disertai faktor korupsi, fragmentasi politik, otoritarianisme, serta kegagalan adaptasi terhadap perubahan zaman.
Analisis ini kini mendapat ujian empiris yang konkret di tengah konflik bersenjata Israel–Amerika Serikat versus Iran yang meletus sejak akhir Februari 2026. Situasi geopolitik Timur Tengah berkembang dengan kecepatan ekstrem—bukan lagi per hari, melainkan per jam bahkan per menit, melalui peluncuran rudal, serangan balasan, pertemuan darurat diplomatik, dan pergeseran opini publik global. Artikel ini menyajikan tinjauan faktual dan netral berdasarkan data terkini, dengan tujuan memberikan perspektif ilmiah bagi generasi muda Muslim Indonesia dalam memahami dinamika umat.
Konteks Persaudaraan Islam versus Realitas Geopolitik
Dari perspektif ukhuwah Islamiyah, Iran sebagai negara mayoritas Muslim (meskipun mayoritas Syiah) seharusnya mendapat solidaritas umat ketika menjadi target serangan Israel dan Amerika Serikat. Namun, respons negara-negara Arab—khususnya di kawasan Teluk—menunjukkan pola yang lebih kompleks dan pragmatis. Banyak pemimpin Arab Teluk (Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait) secara terbuka mengutuk serangan balasan Iran dan menegaskan hak bela diri mereka.
Hal ini didasarkan pada persepsi jangka panjang bahwa Iran merupakan ancaman strategis yang lebih signifikan daripada Israel, mengingat sejarah pendanaan dan persenjataan kelompok milisi pro-Iran (Hizbullah, Houthi, serta kelompok di Irak) yang telah mengganggu stabilitas kawasan selama puluhan tahun. Tanpa mereka sadari bahwa berbagai kejadian di Timur Tengah yang kemudian berujung dengan berbagai kemelut yang menyedihkan yang disebut sebagai Arab spring adalah disebabkan karena kebencian Amerika terhadap Islam.
Faktor struktural di balik sikap tersebut meliputi:
– Ketidakmandirian keamanan nasional dan ketergantungan yang kuat terhadap Amerika Serikat sebagai penjamin stabilitas.
– Kekhawatiran eksistensial terhadap rezim monarki itu sendiri, terutama di tengah potensi instabilitas internal.
Bukti konkret menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap Iran tidaklah mutlak. Arab Saudi, misalnya, telah menjalin kembali hubungan diplomatik penuh dengan Iran sejak Maret 2023 melalui fasilitasi Republik Rakyat China—kesepakatan yang tetap dijaga hingga menjelang eskalasi 2026. Hal ini mengindikasikan bahwa kalkulasi politik lebih didominasi oleh kepentingan nasional dan rezim daripada solidaritas sektarian semata.
Netralitas dan Pelajaran Geopolitik dari Serangan Balasan Iran
Untuk menjaga objektivitas analisis, perlu dicatat bahwa tidak satu pun pemimpin negara Arab Teluk (semuanya berbentuk monarki, kecuali Mesir yang turut terlibat dalam dinamika konflik) yang benar-benar netral. Serangan rudal dan drone Iran dalam konflik ini bukan ditujukan kepada negara-negara Teluk sebagai musuh primer, melainkan sebagai respons balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat yang beroperasi di wilayah mereka—termasuk di Arab Saudi. Meskipun serangan tersebut merembet ke infrastruktur sipil dan ekonomi, esensi strategisnya adalah serangan terhadap kehadiran AS.
Peristiwa ini justru menyajikan pelajaran geopolitik yang berharga bagi negara-negara Teluk:
– Hanya Qatar dan Oman yang cepat menyadari implikasinya, dengan tidak memberikan tekanan diplomatik berlebih terhadap Iran dan tetap membuka jalur dialog.
– Uni Emirat Arab tampak terlena dalam kemapanan ekonominya serta persaingan hegemoni regional dengan Arab Saudi, serta hubungan dekatnya dengan Israel.
– Arab Saudi menunjukkan keterlambatan dalam merespons pelajaran tersebut, yaitu bahwa Amerika Serikat adalah adidaya yang kepentingannya mereka jaga, bukan sebaliknya. Kini, AS menunjukkan tanda-tanda kelemahan struktural, sementara Israel—yang selama ini dianggap tak terkalahkan—mulai menampakkan kelelahan setelah berbulan-bulan perang berkepanjangan.
Risiko Internal: Bahaya Terbesar bagi Stabilitas Rezim.
Bahaya paling akut dari konflik ini bukan semata pada dimensi militer antarnegara, melainkan potensi perlawanan internal warga negara. Di Bahrain, protes dari komunitas Syiah (mayoritas penduduk) telah merebak sejak awal eskalasi, memicu respons keamanan ketat. Situasi serupa menjadi peringatan bagi Arab Saudi, yang memiliki populasi Syiah signifikan (sekitar 15 – 20 persen dari total penduduk, terkonsentrasi di Provinsi Timur berdekatan dengan Bahrain). Dinamika ini memperkuat argumen bahwa perpecahan sektarian (Sunni–Syiah) dan ketergantungan eksternal justru menjadi faktor utama yang melemahkan umat Islam secara keseluruhan.
Menuju Kemajuan yang Hakiki
Konflik 2026 yang terus berkembang secara cepat ini menjadi cermin hidup dari pertanyaan “Limadha ta’akhkhar al-Muslimun wa taqaddama ghayruhum?”. Perpecahan mendalam—baik sektarian, nasional, maupun kepentingan rezim—ternyata lebih merusak daripada ancaman eksternal mana pun. Retorika persaudaraan Muslim sering kali bertabrakan dengan realitas geopolitik yang keras, di mana solidaritas menjadi selektif dan pragmatis.
Yayasan Pendidikan Indonesia menegaskan bahwa kemajuan umat tidak akan tercapai melalui retorika semata, melainkan melalui persatuan pragmatis, reformasi internal yang berkelanjutan, kemandirian strategis, serta pembangunan kapasitas ilmu dan teknologi. Generasi muda Muslim Indonesia diajak untuk mengambil pelajaran: jangan hanya menjadi penonton sejarah yang ditulis setiap jam, melainkan aktor yang mampu membangun peradaban yang adil, berilmu, dan mandiri.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














