Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memberikan keterangan dalam konferensi pers Evaluasi BGN terkait Program Makan Bergizi Gratis Tahun 2025 di Kantor Badan Gizi Nasional, Jakarta, Senin (22/9/2025). (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso/YU)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana tetap akan memasukkan Ultra Processed Foods (UPF) atau makanan ultra-olahan ke dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Padahal sudah disemprot oleh Ombudsman RI
Hal ini disampaikan Dadan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR, dengan Menteri Kesehatan, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN RI, serta Kepala BPOM di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (1/10/2025).
Ia menyebut produk ultra-proses telah melewati tahapan sedemikian rupa yang terjamin kebersihan dan keamanannya, sebelum siap dikonsumsi. Oleh karena itu, Dadan menyatakan tetap akan menggunakan makanan ultra-proses.
Meski begitu, ia mengaku tetap akan mengutamakan produk UMKM apalagi bila diproduksi secara higienis.
“Untuk beberapa produk yang mengandung banyak gula kita akan hindarkan. Tetapi untuk beberapa produk yang dapat diterima seperti susu UHT yang rasanya plain, saya kira tidak membatasi itu,” ucap Dadan.
Sebelumnya, anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, mempertanyakan kehadiran makanan ultra-olahan atau ultra-processed foods (UPF) dalam menu MBG. Ia menyebut makanan seperti sosis, nugget, dan burger seharusnya tidak diberikan kepada peserta program yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak.
“BGN (Badan Gizi Nasional) tidak lagi memaksakan membeli sosis, nugget di dalam menunya, burger gitu. Harusnya nggak boleh lah, namanya aja junk food, benar kan?” kata Yeka di Kantor Ombudsman RI, Jakarta Selatan, Selasa (30/9/2025).
Menurutnya, keberadaan junk food dalam menu MBG bertentangan dengan tujuan utama program, yakni menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi anak-anak. Ia menegaskan, makanan instan dan olahan pabrik seharusnya dihindari karena nilai gizinya rendah. “Karena ini kan makan bergizi, ya berarti unsur gizinya itu harus benar-benar dipenuhi,” ujar Yeka.














