Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). (Foto: Antara Foto/Hafidz Mubarak A/nym).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pemerintah Indonesia meminta agar fasilitas tarif resiprokal 0 persen yang sebelumnya diberikan Amerika Serikat (AS) tetap dipertahankan, meskipun pemerintah AS menetapkan tarif baru sebesar 10 persen bagi seluruh negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan Office of the United States Trade Representative (USTR). Dari komunikasi tersebut, pemerintah AS disebut akan mengambil keputusan di tingkat kabinet terhadap negara-negara yang telah menandatangani perjanjian perdagangan.
“Alhamdulillah, kemarin Indonesia sudah menandatangani perjanjian, dan yang diminta oleh Indonesia adalah kalau yang lain semua berlaku 10 persen, tetapi yang sudah diberikan 0 persen itu kita minta tetap,” ujar Airlangga kepada wartawan di Washington DC, Sabtu (21/2/2026 pagi waktu setempat.
Sektor Industri dan Rantai Pasok Masih Dibahas
Menurut Airlangga, sebagian skema tarif 0 persen untuk produk pertanian telah diatur melalui executive order tersendiri sehingga tidak termasuk dalam kebijakan yang dibatalkan. Komoditas yang dimaksud antara lain kopi, kakao, dan sejumlah produk agrikultur lainnya.
Pemerintah berharap fasilitas tersebut tetap berlaku karena sudah memiliki dasar pengaturan yang berbeda.
Selain sektor pertanian, Indonesia juga mengupayakan agar tarif 0 persen tetap berlaku untuk produk yang terkait rantai pasok (supply chain) industri, seperti elektronik, crude palm oil (CPO), tekstil, hingga alas kaki.
Namun, kepastian mengenai hal itu masih menunggu perkembangan hingga 60 hari sejak penandatanganan kesepakatan bilateral.
Menanggapi anggapan bahwa Indonesia akan diperlakukan sama dengan negara lain yang dikenai tarif 10 persen, Airlangga menegaskan tidak seluruh produk terdampak kebijakan tersebut.
“Kita ada yang 10 persen, tetapi ada yang kita sedang bicarakan. Yang sudah diputus nol, supaya tetap nol,” kata Airlangga.
Skema Tarif Produk AS ke Indonesia Masih Berlaku
Terkait tarif produk Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia, Airlangga menyebut skema yang berlaku saat ini masih berjalan seperti sebelumnya hingga implementasi penuh dari agreement on reciprocal tariff.
Ia mencontohkan, komoditas gandum (wheat) dari AS telah dikenakan tarif 0 persen. Sementara kedelai (soy bean) dan sejumlah produk lain berada di kisaran tarif sekitar 5 persen.
“Kan kemarin ada yang sudah nol, kayak wheat itu sudah nol. Kemudian ada soy bean dan yang lain, ada yang 5 persen. Kalau itu masih tetap seperti itu, sampai dengan implementasi daripada agreement on reciprocal tariff,” jelasnya.
Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan kebijakan perdagangan AS sambil memastikan kepentingan nasional tetap terjaga dalam setiap tahapan implementasi kesepakatan.














