Suasana temaram sebuah jalanan di Kota Ourense, Spanyol bagian barat, saat pemadaman listrik, Senin (28/4/2025). (Foto: Bloomberg/Brais Lorenzo)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Indonesia adalah negeri berlimpah sumber daya alam khususnya batu bara. Tapi, kemarin, sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) malah mengalami kelangkaan batu bara. Sehingga terjadi pemadaman bergilir di sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menduga, minimnya pasokan batu bara di sejumlah PLTU milik PLN itu, akibat tak berjalannya kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri ESDM No 1395 K/30/MEM/2018.
Dalam aturan itu, kata Fahmy, Kementerian ESDM mewajibkan perusahaan batu bara menyisihkan 20 persen dari total produksinya untuk dijual ke PLN dengan harga US$70 per metrik ton. Selanjutnya, batu bara itu digunakan untuk mengoperasikan PLTU.
“Namun, sering kali kewajiban DMO itu tidak jalan. Saat harga batu bara global sedang tinggi-tingginya, pengusahanya cenderung mendahulukan ekspor, ketimbang memasok batu bara ke PLN,” terang Fahmy di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Dampaknya, ya itu tadi. Perusahaan setrum pelat merah seketika mengalami kekurangan pasokan batu bara, sehingga menyebabkan terjadinya pemadaman listrik bergilir.
Masih menurut Fahmy, tidak jalannya kewajiban DMO, karena tidak tegasnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang kini dipimpin Bahlil Lahadalia.
Padahal sudah ada sanksi bagi perusahaan batu bara yang tak menjalankan DMO. “Biasanya mereka dikenai denda yang lumayan besar. Kalau masih bandel, bisa dicabut izinnya. Tapi, saya kira semua itu enggak jalan,” imbuhnya.
Sikap melawan aturan DMO dari pengusaha tambang kakap ini, menurut Fahmy, jelas merugikan masyarakat. Termasuk pelaku usaha, industri harus menanggung kerugian akibat proses produksinya yang terganggu.
“Lebih kasihan lagi kelompok rumah tangga, harus menggunakan lilin untuk penerangan di malam hari. Semuanya menderita karena pemadaman listrik akibat minimnya batu bara,” ungkapnya.
Potret 10 Perusahaan Batu Bara Terbesar di Indonesia
Indonesia dikenal sebagai produsen batu bara terbesar ketiga di dunia, setelah China dan India. Sehingga, sangat aneh jika ada PLTU milik PLN yang kekurangan batu bara.
Saat ini, semakin banyak perusahaan tambang besar milik pengusaha papan atas yang beroperasi di sejumlah pusat batu bara. Namun, pengusahanya hanya itu-itu saja.
Misalnya, Low Tuck Kwong yang dikenal sebagai pendiri dan pemilik saham pengendali PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Garibaldi “Boy” Thohir, bersama TP Rachmat dan Edwin Soeryadjaya mengendalikan PT AlamTri Resources Indonesia Tbk yang sebelumnya dikenal sebagai PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO).
Atau Keluarga Widjaja (Sinar Mas), menguasai Sinar Mas Group yang membeli Berau Coal. Dan masih banyak nama lainnya. Berikut 10 perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia.
| No | Nama Perusahaan | Volume Produksi (2025) |
| 1 | PT Bumi Resources Tbk | 74,8 juta ton |
| 2 | PT Adaro Andalan Indonesia Tbk | 68,7 juta ton |
| 3 | PT Bayan Resources Tbk | 68,0 juta ton |
| 4 | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | 57,2 juta ton |
| 5 | PT Indika Energy Tbk | 30,5 juta ton |
| 6 | PT Berau Coal Energy | 25 juta ton |
| 7 | PT Indo Tambangraya Megah Tbk | 21,2 juta ton |
| 8 | PT Baramulti Suksessarana Tbk | 17,8 juta ton |
| 9 | PT Prima Andalan Mandiri Tbk | 9,3 juta ton |
| 10 | PT Adaro Minerals Indonesia Tbk | 7,41 juta ton |
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













