Proyek rintisan (pilot plant) Hidrogen Hijau Pertamina di Ulubelu, Lampung, dipastikan tidak hanya menjadi terobosan teknologi energi bersih, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi dan lingkungan yang signifikan.
Pembangunan fasilitas ini disebut menyerap ratusan tenaga kerja lokal dan memicu investasi energi bersih senilai jutaan dolar.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, mengungkapkan bahwa proyek dengan total investasi 3 juta USD ini menyerap hingga ratusan pekerja selama masa konstruksi.
“Keterlibatan tenaga kerja lokal menjadi bagian dari strategi Pertamina untuk memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekitar wilayah operasi. Proyek ini menghadirkan multiplier effect berupa penciptaan lapangan kerja,” ujar Fadjar dalam keterangannya, Jumat (12/9).
Dari sisi lingkungan, proyek ini menjadi langkah penting dalam dekarbonisasi. Produksi hidrogen hijau dari panas bumi hanya menghasilkan sekitar 2 kg CO₂ per kg H₂, jauh lebih rendah dibandingkan hidrogen abu-abu (grey hydrogen) yang emisinya bisa mencapai 14 kg CO₂ per kg H₂.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), Julfi Hadi, menambahkan bahwa proyek ini adalah langkah strategis “melampaui listrik” (beyond electricity). Menurutnya, ini adalah bagian dari upaya membangun ekosistem green hydrogen secara end-to-end, hingga ke produk turunan masa depan seperti green ammonia dan green methanol.
Proyek yang diresmikan pada 9 September lalu ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan menciptakan program yang berdampak nyata pada ekonomi, sosial, dan lingkungan.














