Tepuk Sakinah: Dari Pesan Religius ke Budaya Populer

Tepuk Sakinah: Dari Pesan Religius ke Budaya Populer

WhatsApp Image 2025-10-08 at 20.23.28.jpeg

Kamis, 9 Oktober 2025 – 06:00 WIB

Ilustrasi. (Desain: inilah.com/inu)

Ilustrasi. (Desain: inilah.com/inu)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Fenomena “Tepuk Sakinah” dalam beberapa waktu terakhir ramai dibahas di media sosial. Gerakan sederhana yang awalnya bertujuan menyampaikan nilai-nilai pernikahan Islami ini memicu pro dan kontra. Sebagian menilai Tepuk Sakinah sebagai cara kreatif dalam berdakwah, namun tak sedikit pula yang menganggapnya sebagai bentuk pelecehan atas makna sakinah yang seharusnya sakral.

Fenomena ini menjadi menarik jika dilihat dari perspektif ilmu komunikasi, khususnya dalam memahami bagaimana pesan religius bertransformasi di era budaya digital yang serba viral dan instan.

Dari Dakwah ke Hiburan Digital

Tepuk Sakinah adalah contoh dakwah yang dikemas secara ringan dan mudah diterima, bahkan menyerupai hiburan. Dakwah tidak lagi terbatas pada ceramah konvensional, melainkan bisa hadir dalam format ritmis, visual, dan mudah disebarluaskan lewat media sosial. Namun, di ruang digital, pesan religius berhadapan dengan algoritma media yang lebih mementingkan aspek hiburan—mengutamakan apa yang lucu, menarik, dan berpotensi viral.

Akibatnya, pesan dakwah berisiko mengalami pergeseran makna: dari ajakan reflektif menjadi sekadar konten viral yang mengundang tawa, like, dan share.

Budaya Populer dan Mediatization of Religion

Fenomena ini selaras dengan konsep mediatization of religion (Hjarvard, 2008), yakni proses ketika agama tidak lagi hanya diatur oleh lembaga keagamaan, tetapi juga oleh logika media massa dan media sosial. Tepuk Sakinah menjadi contoh bagaimana pesan keagamaan harus tunduk pada aturan main media: harus singkat, visual, emosional, dan mudah ditiru.

John Fiske (1989) dalam kajian budaya populer menegaskan, tren viral adalah hasil negosiasi makna antara pencipta dan penerima pesan. Publik menafsirkan ulang, kadang jauh dari niat awal pembuatnya. Inilah mengapa Tepuk Sakinah dipahami berbeda-beda: ada yang menganggapnya dakwah kreatif, ada pula yang memandangnya sebagai banalitas atau pelecehan nilai religius.

Simbol, Identitas, dan Kesalehan di Era Digital

Tepuk Sakinah juga merupakan bentuk komunikasi simbolik. Gerakan tangan, ekspresi wajah, dan narasi membentuk simbol-simbol kesalehan. Di era media sosial, kesalehan tak lagi sekadar urusan privat, tetapi juga menjadi performa publik. Masyarakat religius kini hidup dalam dua ruang: spiritual (transendental) dan performatif (tampilan kesalehan). Media sosial membuat kesalehan bisa “dipamerkan” dan “dibagikan”, menjadi bagian dari identitas sosial.

Viralitas dan Pergeseran Makna Kesakralan

Viralitas bukanlah sesuatu yang netral. Dalam komunikasi massa, viralitas bisa mengubah struktur makna di masyarakat. Saat pesan religius menjadi tren, ia berisiko kehilangan kedalaman reflektif dan hanya jadi sensasi sesaat. Namun, sisi positifnya, fenomena seperti Tepuk Sakinah membuka ruang baru bagi dakwah yang lebih partisipatif, terutama untuk generasi muda.

Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara hiburan dan makna, agar pesan religius tidak kehilangan inti spiritualnya di tengah gempuran budaya populer.

Refleksi: Antara Nilai dan Tren

Tepuk Sakinah mengingatkan bahwa komunikasi religius di era digital menuntut literasi media. Pendakwah, kreator konten, dan lembaga agama harus sadar bahwa setiap simbol, narasi, dan ekspresi yang dilempar ke ruang publik digital selalu terbuka untuk ragam tafsir—dan bahkan distorsi.

Ketika dakwah masuk ranah budaya populer, kesakralan nilai harus tetap dijaga. Komunikasi efektif bukan hanya yang viral, tetapi yang mampu menanamkan makna, menumbuhkan refleksi, dan membangun kesadaran sosial. Sebab makna sejati dalam dakwah bukan diukur dari banyaknya penonton, melainkan dari sejauh mana pesan itu menembus hati dan mengubah perilaku.

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today