Usai Dibantah Empat Aplikator, Kini Igun Garda Indonesia Tuduh Gibran Pro Korporat

Usai Dibantah Empat Aplikator, Kini Igun Garda Indonesia Tuduh Gibran Pro Korporat


Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia naga-naganya kurang senang soal dugaan sopir ojol yang menemui Wapres Gibran Rakabuming Raka, adalah gadungan, dibantah empat aplikator. Kini narasinya berbelok jadi kurangnya keberpihakan Gibran terhadap pengemudi ojol.

Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono menyebut bahwa pihak yang melakukan pertemuan tersebut bukan dari asosiasi pengemudi ojol.

“Asosiasi Pengemudi Ojol Garda Indonesia tidak mendapatkan informasi lengkap apa bahasan yang tengah mereka bahas dalam pertemuan tersebut. Namun yang pasti Garda menilai bahwa pihak yang ada dalam pertemuan bukan dari asosiasi maupun kelompok yang selama ini sedang memperjuangkan hak dan keadilan bagi ojol seluruh Indonesia,” ujar Igun dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (3/9/2025).

Dia mengatakan, jika perkumpulan tersebut mewakili korporat perusahaan aplikasi dia menyayangkan bahwa Gibran lebih memilih menampung kepentingan korporat aplikator dibandingkan rakyat Indonesia yang berprofesi sebagai ojol yang sedang berjuang atas hak dan keadilan.

“Silahkan masyarakat dan rakyat Indonesia menilai pertemuan antara Gibran dengan pengemudi ojol yang mewakili kepentingan korporat untuk membesarkan korporat dan kepentingan Gibran yang seakan telah menampung aspirasi pengemudi ojol,” kata dia.

“Namun ternyata pengemudi ojol dari korporat aplikator yang selama ini telah melakukan penindasan hak dan keadilan bagi sebagian besar pengemudi ojol yang sedang mengalami kesulitan ekonomi dan diabaikan hak serta keadilannya,” sambungnya.

Dia menegaskan, jika pertemuan dengan Gibran untuk mewakili kepentingan korporat aplikator maka pertemuan tersebut patut dipertanyakan kepada Gibran yang jelas-jelas rakyat ojol sedang dalam kesulitan ekonomi. Dia menegaskan bahwa pihaknya akan tetap fokus pada tuntutan utama yaitu potongan biaya aplikasi 10 persen.

“Garda mempertanyakan keberpihakan Gibran, apakah Wapres pro kepada rakyat atau pro kepada pebisnis atau korporat aplikator sehingga lebih memilih menyerap aspirasi korporat, aspirasi bisnis dibandingkan aspirasi rakyat Indonesia, ataukah memang pemerintahan dan kekuasaan sudah dikendalikan oleh kepentingan korporat aplikator ojol sehingga timbul adanya kebijakan pemerintah yang dikendalikan oleh korporat aplikator ojol atau disebut dengan vendor driven policy,” jelasnya.

Sebelumnya, empat perusahaan ojek online (ojol) Grab, Gojek, Maxim, dan InDrive memastikan orang-orang yang bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka adalah mitra pengemudi mereka. Pernyataan ini menjawab tudingan Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia soal tidak jelasnya asal muasal orang-orang tersebut.

Direktur Public Affairs & Communications GoTo Ade Mulya mengonfirmasi pria berjaket Gojek adalah mitra mereka bernama Mohamad Rahman Tohir. Pria yang akrab disapa Cang Rahman ini aktif menjadi mitra Gojek sejak 2015.

Ade menerangkan pihaknya dan aplikator lain, yaitu Maxim, Grab dan InDrive, sempat dihubungi Kantor Wapres untuk menghadirkan perwakilan mitra ojol. Para perwakilan itu disebut diminta hadir untuk berdialog bersama Gibran.

“Kami pun ingin menegaskan bahwa Mohamad Rahman Tohir atau yang akrab disapa Cang Rahman, salah satu peserta dialog yang ramai menjadi perbincangan publik akhir-akhir ini adalah benar mitra aktif Gojek sejak 2015,” kata Ade dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (2/9/2025).

Bantahan ini mematahkan narasi Garda Indonesia yang menyatakan tak mengenali para perwakilan ojol yang berdialog dengan Gibran. Igun bilang para pengemudi ojol yang bertemu Wapres bukan anggota asosiasinya. Atas kejanggalan itu ia menyinggung ketidakjelasan kelompok mana yang diwakili saat pertemuan dengan Gibran.

Igun menaruh curiga dan mempertanyakan soal asal para ojol yang diundang berdialog karena notabene baik ia maupun rekan-rekannya di asosiasi tidak mengenali mereka. Dia sempat menyebut kemungkinan rekayasa dari pemerintah yang mungkin tidak benar-benar mendatangkan ojol melainkan orang-orang suruhan tetapi beratribut ojol.
 

Visited 1 times, 1 visit(s) today