Jalan Kepedihan di Gaza: Antara Bertahan atau Mati Perlahan

Jalan Kepedihan di Gaza: Antara Bertahan atau Mati Perlahan


“Hidup di sini adalah kematian yang perlahan, dan kematian terasa lebih berbelas kasih daripada penderitaan ini.”

Pilihan hidup dan mati di Gaza kian tak berjarak. Di jalan pesisir Al-Rashid, yang kini berubah menjadi jalur kepedihan, ratusan ribu warga terhimpit keputusan yang menyakitkan: tetap di rumah dan menghadapi maut, atau pergi mengungsi dengan ketidakpastian yang tak kalah menakutkan.

Seorang ibu, Um Ahmad Ashour, berjalan gontai, memeluk erat putrinya yang ketakutan. “Saya tak tahu ketakutan mana yang lebih berat,” ujarnya lirih kepada kantor berita Xinhua. Suara tembakan dan ledakan telah menjadi melodi malam yang tak berkesudahan, merenggut tidur dan ketenangan. Harapan pada perundingan damai antara Hamas dan Israel, katanya, ‘semakin memudar’.

Bagi Ashour, pengungsian bukanlah hal baru. Ia pernah mengalaminya pada awal perang, saat ‘merasakan segala macam penghinaan’ dan ‘mati ribuan kali setiap hari’. Setelah gencatan senjata, ia kembali, berjanji tidak akan pernah mengungsi lagi. Namun, janji itu kini tinggal kenangan. “Hari ini, saya kembali ke jalan yang sama, hancur dan tidak berdaya.”

Potret kepiluan serupa terlihat pada Khaled Abu Urmana (65). Sambil menggenggam erat tangan cucunya, ia menatap cakrawala yang diselimuti debu. Ia juga kembali ke Gaza City setelah gencatan senjata, berharap bisa membangun kembali martabat dan hidup. Kenyataannya, “kami hanya mendapati lebih banyak penderitaan.”

Janji untuk membangun kembali rumah kini musnah. Urmana menyebut, apa yang mereka alami lebih dari sekadar ketakutan akan kematian. “Di sini, rasa takut meluas ke hari esok yang tidak diketahui keberadaannya.”

Setiap rudal yang jatuh membangkitkan kenangan. Wajah kerabat dan tetangga yang tewas, suara tawa anak-anak yang kini digantikan keheningan. “Kami bukan hanya angka atau gambar di layar,” katanya, sarat makna. “Kami adalah manusia yang memiliki nama, anak-anak yang memiliki mimpi, dan kenangan yang memiliki akar.”

Situasi di Gaza City kian memburuk. Serangan udara Israel terus-menerus, menghancurkan menara permukiman dan blok apartemen hingga menjadi puing. Militer Israel beralasan menargetkan ‘gedung-gedung bertingkat’ yang dituduh digunakan oleh Hamas, tuduhan yang dibantah tegas oleh kelompok tersebut.

Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan kehancuran dalam waktu kurang dari sepekan melampaui imajinasi. Lebih dari 50.000 orang kehilangan tempat tinggal. Tercatat 12 gedung bertingkat tinggi, 120 gedung bertingkat sedang, 10 sekolah, lima masjid, dan 600 tenda hancur lebur. “Situasi ini merupakan bencana besar di segala aspek,” tegasnya.

Di tengah kehancuran, beberapa orang tetap bertahan, tak mampu atau tak mau pergi. Salah satunya Yasser Abu Shaban, pria berusia 20-an. “Saya tidak lagi takut mati,” katanya. “Saya takut terbangun dan mendapati diri saya satu-satunya yang selamat dalam keluarga saya.”

Shaban mengakui, di Gaza, batas antara hidup dan mati telah kabur. “Hidup di sini adalah kematian yang perlahan, dan kematian terasa lebih berbelas kasih daripada penderitaan ini,” bisiknya.

Dengan korban tewas mencapai 64.756 orang dan lebih dari 164.000 lainnya terluka, Gaza kini menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan yang tak terperikan. 

Um Ahmad Ashour, seperti ribuan warga lainnya, menyeka air mata putrinya sambil berkata, “Di Gaza, tidak ada perbedaan antara hidup dan mati. Keduanya telah menjadi satu wajah penderitaan.”

Ia berjalan menuju ketidakpastian. Dan, bagi Ashour, ketidakpastian itu tak kalah menakutkan dari kematian yang sesungguhnya.
 

Visited 1 times, 1 visit(s) today