Jerman Kecam Rencana AS Invasi Kuba, Kanselir Merz: Tak Ada Dasar Kuat!

Jerman Kecam Rencana AS Invasi Kuba, Kanselir Merz: Tak Ada Dasar Kuat!

Kanselir Jerman Friedrich Merz secara terbuka mengecam wacana intervensi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Kuba. Merz menegaskan bahwa rencana operasi tersebut sama sekali tidak memiliki dasar hukum maupun alasan keamanan yang jelas.

Dalam konferensi pers di Hanover, Selasa (21/4/2026), pemimpin Jerman tersebut menyatakan bahwa masalah politik internal sebuah negara—meski di bawah rezim komunis—tidak boleh dijadikan pembenaran bagi negara lain untuk melakukan invasi.

“Tidak ada alasan yang jelas untuk menginvasi Kuba. Terlepas dari berbagai masalah politik dalam negeri yang dihadapi negara-negara di bawah rezim komunis, Kuba tidak menimbulkan ancaman nyata bagi negara lain di luar wilayahnya,” tegas Merz dengan lugas.

Bukan Alasan Perang

Merz memberikan peringatan keras bahwa memiliki kekuatan militer yang dominan tidak lantas memberikan hak kepada sebuah negara untuk menumbangkan sistem politik negara lain melalui kekerasan.

Menurutnya, perbedaan ideologi atau sistem pemerintahan adalah kedaulatan masing-masing negara yang harus dihormati dalam tata pergaulan internasional.

“Memiliki kemampuan dalam pertahanan tidak berarti berhak untuk melakukan intervensi militer terhadap negara lain hanya karena sistem politiknya berbeda,” imbuhnya.

Meskipun melayangkan kritik tajam, Merz mengaku masih meragukan apakah Washington benar-benar akan merealisasikan ancaman tersebut. Ia menilai, di atas kertas, AS saat ini tidak memiliki alasan mendesak untuk melancarkan operasi militer sebesar itu.

Ancaman Trump dan Kesiapan Pentagon

Kecaman dari Berlin ini muncul merespons pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump baru-baru ini. Trump memberikan sinyalemen kuat bahwa militer AS mungkin akan bergeser ke Kuba setelah urusan dengan Iran dianggap selesai.

Langkah ini bukan sekadar gertakan diplomatik. Pentagon secara resmi menyatakan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis dan berada dalam posisi siap tempur untuk melaksanakan perintah Presiden terkait kemungkinan operasi di Havana.

Eskalasi wacana ini kini memicu kekhawatiran di kalangan sekutu NATO. Jerman, sebagai kekuatan utama ekonomi Eropa, tampaknya memilih untuk mengambil posisi berseberangan dengan Washington guna mencegah pecahnya konflik baru di kawasan Karibia yang dapat memperkeruh stabilitas global.

Visited 6 times, 1 visit(s) today