Lautaro Martinez tampil sebagai pahlawan kemenangan dramatis Argentina atas Inggris, mewujudkan mimpi masa kecilnya sejak dibelikan sepatu bola pertama oleh sang ayah. (Foto: Getty images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nama Lautaro Martinez memiliki rekam jejak panjang sebagai pencetak gol ulung, sehingga bukan sebuah kejutan ketika pelatih Lionel Scaloni memanggilnya dari bangku cadangan pada menit ke-81. Saat itu, Tim Nasional Argentina tengah berada dalam posisi terdesak, tertinggal 0-1 dari Inggris di laga semifinal Piala Dunia 2026.
Keputusan memasukkan penyerang Inter Milan tersebut terbukti menjadi salah satu pergantian pemain paling krusial dalam sejarah turnamen.
Setelah Enzo Fernandez sukses menyamakan kedudukan pada menit ke-85, armada La Albiceleste benar-benar tancap gas. Puncak keajaiban itu tiba di masa injury time (90+2′). Sang kapten, Lionel Messi, melepaskan umpan silang akurat menggunakan kaki kanannya ke arah gawang. Di sanalah Martinez melompat tinggi menyambut bola dengan tandukannya, menghujamkan bola ke dalam jaring gawang Inggris dan mengubah skor menjadi 2-1.
Momen Magis yang Terukir di Sejarah Keluarga
Bagi Argentina, itu adalah sebuah momen magis yang menyelamatkan nyawa mereka di Piala Dunia. Namun bagi seorang Lautaro Martinez, itu adalah momen personal yang akan terukir abadi dalam sejarah keluarganya.
Gol penentu kemenangan di menit-menit akhir semifinal Piala Dunia adalah pengakuan atas kerja kerasnya, sekaligus sebuah mimpi masa kecil yang akhirnya menjadi kenyataan.
“Sejak hari pertama ayah saya membelikan saya sepasang sepatu sepak bola, saya selalu memimpikan momen ini,” ungkap Martinez dengan penuh emosi seusai pertandingan, seperti yang dikutip dari laman resmi FIFA.
“Anak-anak saya, keluarga saya ada di sini… momen ini akan menjadi sesuatu yang sama sekali tak terlupakan.”
Selangkah Menuju Sejarah Back-to-Back
Momen emosional tersebut dipastikan akan hidup selamanya di benak Martinez, dan tentu saja di dalam hati seluruh rakyat Argentina. Gol tandukannya tidak hanya mematahkan hati publik Inggris yang harus kembali mengemas koper, tetapi juga menjaga asa Sang Juara Bertahan untuk mempertahankan takhta mereka.
Kini, La Albiceleste hanya berjarak satu kemenangan lagi dari pencapaian epik mengawinkan gelar juara dunia secara berturut-turut (back-to-back). Untuk mewujudkan sejarah langka tersebut, skuad asuhan Lionel Scaloni harus terlebih dahulu menaklukkan raksasa Eropa lainnya, Spanyol, pada partai grand final yang dijadwalkan berlangsung di East Rutherford akhir pekan ini.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














